Penjualan Tahu Bulat, Tak Terpengaruh Kenaikan Harga Kedelai

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Di tengah kenaikan bahan baku kedelai yang mencapai Rp 9.200 per kilogram, rupanya tidak berpengaruh pada penjualan tahun bulat di Kota Semarang. Para pedagang tetap menjual dengan harga Rp 500 per buah. Ukurannya pun tidak berubah.

“Harga kedelai memang naik, tapi ini tahu buatan dari pabrik (produsen-red), jadi tidak berpengaruh. Harga jual dan ukuran juga tidak berubah, masih Rp 500 per buah. Kalau harga jual naik nanti malah tidak banyak yang beli,” papar Asep, salah seorang penjual tahu bulat di kawasan Tembalang Semarang, saat ditemui, Selasa (5/1/2021).

Dipaparkan, proses pembuatan tahu bulat seluruhnya dilakukan di produsen, dirinya hanya tinggal menggoreng tahu sesuai pesanan pembeli.

“Masih tetap ramai, sehari bisa sampai ratusan buah tahu, karena memang ini jajanan rakyat, murah meriah. Rata-rata beli Rp5 ribu – Rp10 ribu, sudah dapat 10- 20 buah tahu bulat,” terangnya.

Untuk semakin memperkaya rasa, dirinya juga menyediakan pilihan bumbu seperti pedas, gurih, atau asin. “Kalau mau dimakan langsung juga sudah enak. rasanya original, gurih karena sewaktu pembuatan juga sudah diberi bumbu seperti bawang putih,” tambahnya.

Disinggung soal omzet, Asep mengaku tidak menentu, namun angkanya rata-rata di atas Rp100 ribu. Jika dihitung kotor, bisa lebih dari Rp200 ribu per hari.

“Setiap hari jualan disini, tidak pindah-pindah soalnya sudah banyak langganannya,” terangnya.

Diakuinya, datangnya musim hujan juga semakin menambah laris dagangan, namun di satu sisi juga membuat sepi.

“Kalau musim hujan seperti sekarang ini, paling enak kan santai sambil makan gorengan, tahu bulat atau sotong. Jadi yang beli banyak, namun kalau hujannya turun deras dan lama, yang beli sedikit,” paparnya sembari tertawa.

Terkait sotong, cemilan ini juga khas, selalu ada di penjual tahu bulat. Makanan tersebut terbuat dari tepung terigu dan tapioka yang diolah sebagai adonan dan diberi bumbu. Kemudian digulung panjang sedikit menyerupai otak-otak. Sotong basah kemudian digoreng hingga matang, dan siap dimakan.

Sama halnya tahu bulat, untuk lebih menarik minat pembeli, juga bisa ditambahkan perasa mulai dari manis, pedas hingga asin.

Sementara, salah seorang pembeli, Adi Kurniawan, mengaku sering membeli tahu bulat di kawasan tersebut. Selain rasanya yang enak, harga yang murah meriah juga menjadi pertimbangan.

“Ini jadi camilan ringan, sambil nonton TV atau kumpul bersama teman dan keluarga,” terangnya.

Disinggung terkait kenaikan harga kedelai, sebagai bahan baku pembuatan tahu bulat, dirinya mengaku tidak tahu. Namun warga Tembalang Semarang tersebut, berharap kenaikan kedelai tidak berimbas pada harga jual tahu bulat.

“Kalau saya sebagai konsumen tentu inginnya, harga tidak naik. Jadi kalau beli juga pas, Rp5 ribu dapat 10, Rp10 ribu dapat 20 tahu. Lebih gampang. Kalau sekarang harga kedelai naik, mudah-mudahan bisa segera turun, sebab kasihan juga para pedagang yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku, termasuk pedagang tahu bulat,” pungkasnya.

Lihat juga...