Percepat Pemulihan Ekonomi, Kemenperin Sasar Produktivitas dan Daya Saing Produk

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Penurunan pertumbuhan ekonomi saat pandemi menyerang, dialami oleh semua negara, tidak terkecuali Indonesia. Dalam prosespemulihan ekonomi nasional, berbagai upaya terus digalakkan, salah satunya adalah dengan menjaga produktivitas industri dan meningkatkan daya saing industri nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara online Kementerian Perindustrian, Selasa (12/1/2021) – Foto Ranny Supusepa

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, dalam upaya memulihkan perekonomian dan meningkatkan daya saing industri nasional, telah dilakukan beberapa langkah.

“Kementerian Perindustrian akan berupaya menjaga produktivitas industri selama pandemi melalui kebijakan pemberian Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI). Industri yang telah diberikan IOMKI sebanyak 18.433 izin dan mampu melindungi pekerjaan bagi 5,16 juta orang tenaga kerja,” kata Agus dalam acara online Kementerian Perindustrian, Selasa (12/1/2021).

Selain itu, Agus menyatakan Kemenperin akan meningkatkan kemampuan industri dalam negeri dalam mendukung penanganan Covid-19, khususnya farmasi untuk penyediaan obat-obatan terapi virus Corona dan alat kesehatan.

Langkah selanjutnya ialah melalui Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), seperti melalui program Bangga Buatan Indonesia atau BBI.

“Kami juga memiliki program substitusi impor 35 persen pada tahun 2022, melalui penurunan impor yang dilaksanakan secara simultan dengan peningkatan utilisasi produksi, mendorong pendalaman struktur industri dan peningkatan investasi,” ujarnya.

Terkait program substitusi impor, Direktur Industri Tekstil Kulit dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh menjelaskan ada empat langkah yang akan dilakukan oleh Kemenperin.

“Yang pertama adalah percepatan program substitusi impor melalui program making Indonesia 4.0,” kata Elis.

Kedua, lanjutnya, penurunan impor melalui substitusi impor pada industri dengan nilai impor besar.

“Akan dilakukan juga pengendalian impor dengan pengaturan tata niaga, harmonisasi bea masuk, NTB dan trade remedies. Yang terakhir adalah program peningkatan penggunaan produk dalam negeri,” pungkasnya.

Lihat juga...