Permintaan Bawang di Semarang Masih Belum Stabil Meski Harga Turun

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Harga bawang merah dan bawang putih di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang sudah kembali normal. Per kilogram bawang merah dihargai Rp25 ribu, sementara untuk bawang putih Rp27 ribu.

“Harga bawang merah-putih ini, sudah mulai turun seminggu lalu, sebelumnya sempat naik sejak jelang Natal 2020 lalu, hingga seminggu terakhir. Penurunan cukup tinggi, sebab kemarin-kemarin harga bawang putih masih Rp 40 ribu per kilogram, sedangkan bawang merah Rp 35 ribu per kilogram,” papar Mulyadi, pedagang sembako di pasar Peterongan Semarang, Selasa (26/1/2021).

Diakuinya meski harga bawang merah-putih sudah turun, namun dirinya tidak berani menyetok banyak, sebab kedua bahan pokok tersebut rentan rusak, jika tersimpan terlalu lama.

“Bawang merah ini, kalau lembab mudah busuk, padahal situasi saat ini musim penghujan, kondisi disini cukup lembab. Sementara meski harga turun, namun permintaan belum normal, jadi tidak berani spekulasi,” lanjutnya.

Diterangkan, sejak harga melonjak penjualan bawang merah-putih sempat mengalami penurunan. Jika sebelumnya, bisa menjual antara 10-20 kilogram bawang merah-putih per hari, kini dirinya hanya mampu menjual separuhnya.

Mulyadi, tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan bawang merah-putih, namun diperkirakan karena stok kedua komoditas tersebut di tingkat petani terbatas, karena belum panen raya. Selain itu, musim hujan juga ikut berpengaruh pada stok bawang.

“Musim hujan bikin bawang jadi mudah busuk, banyak yang gagal panen, jadi stok menurun, sementara permintaan tetap, sehingga harga melonjak naik,” tandasnya.

Kini meski harga sudah turun, namun permintaan masih belum stabil. “Mungkin tahunya masih tinggi harganya. Jadi permintaan belum normal,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Kartini, pedagang lainnya, di Pasar Peterongan Semarang. Menurutnya, penurunan karena sudah ada operasi pasar, atau memasuki musim panen raya.

“Ya kita sebagai pedagang senang juga harga bawang bisa turun, biar kita jualan juga bisa untung. Kalau pedagang seperti kita ini, ambil untung tidak dari selisih harga namun jumlah yang dijual. Meski harga tinggi, selisih keuntungan yang kita ambil tidak berubah karena dari distributornya juga sudah tinggi. Jadi kalau komoditas yang terjual sedikit, keuntungan kita juga berkurang,” tambahnya.

Sementara, seorang pembeli, Rahayu mengaku bersyukur dengan penurunan harga bawang merah-putih, sebab keduanya selalu digunakan untuk bumbu masakkan.

Berbeda dengan cabai, yang bisa dikurangi jumlah penggunaannya, bawang merah-putih tidak bisa.

‘Sekarang ini harga cabai juga masih tinggi, namun bisa dikurangi takarannya dalam masakan. Tidak perlu terlalu pedas, namun kalau bawang merah-putih kan tidak bisa, kalau dikurangi rasanya tidak pas. Jadi kurang mantab, kalau sekarang sudah turun tentu kita juga ikut senang,” lanjut wanita, yang juga pengelola warung makan tersebut.

Lihat juga...