Petani di Desa Pinggirsari Masih Andalkan Cara Tradisional

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Meski modernisasi di sektor pertanian terus berkembang seiring perubahan zaman, namun sejumlah petani di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat masih mengandalkan cara-cara tradisional.

Pak Emen (64), demikian biasa disapa,  salah seorang petani asal daerah tersebut misalnya. Dia masih menggunakan kerbau atau munding untuk membajak ladang sawahnya. Menurut Pak Emen, tanah yang dibajak oleh munding lebih bagus dibandingkan dengan traktor.

Pak Emen saat ditemui di kediamannya usai membajak sawah, di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (4/1/2021). Foto: Amar Faizal Haidar

“Kalau dibajak pakai munding itu kan tanahya lebih gembur (tidak keras) tapi biasanya kalau pakai mesin itu tanahnya jadi lebih keras, itu bikin padi tumbuhnya kurang bagus,” terang Pak Emen saat ditemui di ladangnya, Senin (4/1/2021) di Kabupaten Bandung.

Kata Pak Emen, membajak sawah dengan munding bisa sekaligus mendapat pupuk yang berasal dari kotorannya, hal itu juga yang tidak didapat dari membajak dengan mesin.

“Selain itu kan kalau di sawah saya ini aksesnya agak susah buat masuk traktor, jadi lebih praktis pakai munding,” tandasnya.

Namun di samping berbagai alasan itu, Pak Emen mengaku, tidak memiliki cukup modal untuk membeli atau menyewa traktor serta berbagai mesin pertanian modern lainnya, sehingga cara-cara tradisional tetap harus diandalkan.

“Saya bukan tidak mau pakai mesin, tapi memang kan itu mahal. Kalau pakai munding biayanya lebih murah, Rp150 ribu per hari, ditambah beberapa buruh cangkul, sehari Rp50 ribu. Jadi lebih murah gitu,” tukasnya.

Cara tradisional itu bukan saja dilakukan Pak Emen saat proses pembajakan. Namun hampir di semua prosesnya, seperti saat panen. Dia memisahkan biji padi dari jerami dengan cara memukul-mukulkan pada tatakan kayu atau batu.

“Kalau sudah mau melepaskan gabahnya menjadi beras baru kita pakai diesel. Itu harganya di sini Rp20 rb per karung. Tapi kadang kita juga masih tumbuk saja itu untuk dijadikan beras,” ungkap Pak Emen.

Di tempat yang sama, Kang Asep (50), Pemilik munding merasa bersyukur, karena sebagian petani di Desa Pinggirsari masih memanfaatkan cara tradisional dalam bertani. Dengan begitu, ia tetap bisa mendapatkan penghasilan dari penyewaan munding.

“Iya ada untungnya kan. Coba kalau semua pakai mesin, munding jadi nggak laku lagi. Iya alhamdulillah bisa saling menguntungkan,” tutur Kang Asep.

Dalam setiap musim tanam padi, Kang Asep mengaku bisa membajak lebih dari 3 hektare lahan petani. Dari situ ia menyebut penghasilannya cukup untuk tambahan di samping penghasilan yang juga ia dapatkan dari berkebun.

“Saya kan punya kebun, nanam jagung sama ubi, jadi membajak ini pekerjaan sampingan yang lumayanlah penghasilannya sambil nunggu panen,” pungkas Kang Asep.

Lihat juga...