Petani di Saptosari Keluhkan Anjloknya Harga Pisang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sejumlah petani di Kecamatan Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta, mengeluhkan anjloknya harga jual komoditas hasil bumi, khususnya berbagai macam jenis pisang, sejak 1 bulan terakhir.

Mereka menyebut harga jual pisang anjlok cukup signifikan hingga sekitar 30-50 persen dibandingkan biasanya. Akibatnya para petani pun merugi karena pendapatan mereka berkurang.

Salah seorang warga, petani pisang asal Dusun Sawah, Krambilsawit, Saptosari, Gunungkidul, Suyanto, mengaku biasa menjual hasil bumi berupa pisang ke sejumlah wilayah seperti Bantul dan Yogyakarta.

Berbagai macam jenis pisang seperti pisang kapas, kapok, raja bandung, ambon, koja dan sebagainya, biasa ia jual dengan cara disetor atau diambil oleh pedagang.

“Saya menanam berbagai macam jenis pisang. Sekali panen biasanya dari 20 tundun pohon laku sampai Rp1 juta lebih. Tapi sekarang paling hanya dapat Rp500 ribu. Jadi jauh menurun dari biasanya,” katanya, Senin (11/1/2021).

Ia mencontohkan, harga jual satu tundun pisang jenis koja misalnya, turun dari semula Rp35 ribu menjadi hanya Rp20 ribu saja. Begitu juga dengan harga jual pisang jenis ambon atau raja bandung yang turun dari semula Rp70-90 ribu menjadi hanya Rp50-60 ribu saja tergantung ukuran dan jumlah sisir.

“Kita juga kurang tahu kenapa harga pisang bisa anjlok seperti ini. Ada kemungkinan karena daerah lain sedang panen raya sehingga ada pasokan berlebihan di pasaran,” ungkapnya.

Mengatasi anjloknya harga pisang tersebut, Suyanto mengaku, berupaya menjual pisang hasil panennya dengan cara diecer langsung ke konsumen. Dengan cara itu diharapkan ia bisa mendapatkan untung lebih.

“Kalau dijual langsung ke konsumen harga bisa lebih tinggi. Tidak seperti ketika dijual ke pedagang. Namun kalau nanti tidak habis, ya sisanya tetap disetor ke pedagang,” ungkapnya.

Lihat juga...