Posko Barakat Lembata Lakukan ‘Trauma Healing’ Anak-anak Pengungsi

Editor: Makmun Hidayat

LEWOLEBA — Banyak anak-anak dari Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur yang ikut mengungsi bersama keluarga mereka ke Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat erupsi Gunung Api Ile Lewotolok pada 29 November 2020.

Untuk mengatasi trauma atau stres bagi anak-anak, para relawan Posko Barakat di Kelurahan Lewoleba Timur, Kota Lewoleba melaksanakan kegiatan trauma healing bagi anak-anak yang berada di di rumah-rumah  warga.

“Untuk menghilangkan stres dan trauma kepada anak-anak pengungsi, kami melakukan trauma healing hampir setiap hari,” kata Benediktus Bedil, Koordinator Posko Barakat, saat dihubungi Cendana News, Jumat (1/1/2021).

Koordinator Posko Barakat, Benediktus Bedil saat ditemui di poskonya, Selasa (22/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ben sapaannya mengatakan, kegiatan ini dilakukan oleh para relawan baik dari para mahasiswa, staf Lembaga Swadaya Masyarakat, aktivis sosial maupun tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata.

Ia menyebutkan, kegiatan yang dilakukan berupa mewarnai, menggambar, bernyanyi, membaca maupun bermain bersama dengan jumlah peserta maksimal sekitar 20 anak.

“Anak-anak pun bersemangat mengikuti kegiatan ini bersama teman-teman sesama pengungsi yang tinggal di rumah warga.Kami menyediakan berbagai sarana permainan dan sarana belajar bagi mereka,” ungkapnya.

Ben menambahkan, berbagai peralatan seperti buku dan alat tulis yang diperoleh merupakan sumbangan dari para donatur yang disalurkan ke Posko Barakat untuk diberikan kepada anak-anak pengungsi.

Dia mengakui apa yang dilakukan untuk menghilangkan stres pada anak-anak sebisa mungkin dilakukan oleh para relawan yang ada di Posko Barakat termasuk memberikan makanan tambahan bergizi buat mereka.

“Kami juga memberikan makanan tambahan bergizi seperti bubur sorgum agar anak-anak bisa tetap sehat berada di lokasi pengungsian.Anak-anak juga diberikan pemahaman mengenai kejadian yang membuat mereka mengungsi,” ucapnya.

Sementara itu Remigius Nong, salah seorang relawan dari Komunitas Jalan Kaki (KJK) Maumere yang juga pegiat literasi taman baca mengakui saat berada di Posko Barakat, pihaknya pun mengajak anak-anak bermain dan bernyanyi bersama.

Menurut Remi sapaannya, semakin lama berada di lokasi pengungsian akan membuat anak-anak mengalami kejenuhan dan stres karena mereka tidak bertemu dengan teman-teman satu sekolah dan satu kompleks perumahan.

“Kami mengajak anak-anak untuk bermain bersama dan bernyanyi dengan membuat mereka akrab dan saling mengenal satu sama lain di lokasi pengungsian. Anak-anak pun terlihat bersemangat saat kami mengajak mereka bermain bersama,” tuturnya.

Lihat juga...