Produsen Kerajinan Serat Alam Kulon Progo Kembali Beroperasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sempat terhenti akibat pandemi, ratusan warga di kawasan sentra kerajinan serat alam Desa Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta, bisa kembali bernapas lega sejak beberapa waktu terakhir.

Hal itu terjadi setelah mereka bisa kembali bekerja menyusul beroperasinya sejumlah pabrik pengekspor kerajinan serat alam. Seiring datangnya pesanan dari sejumlah negara  Eropa seperti Belanda, Jerman, dan sebagainya.

Bagi warga, hal ini tentu menjadi angin segar mengingat selama ini mereka sangat tergantung dari usaha pembuatan kerajinan serat alam yang ada di desa mereka.

“Di Salamrejo ini, ada ratusan warga yang sehari-harinya bekerja sebagai pembuat kerajinan serat alam. Warga biasa membuat kerajinan di rumah untuk kemudian disetor ke pabrik pengekspor melalui supplier,” ujar salah seorang warga Jujuk (40), Selasa (12/1/2021).

Selama pandemi Covid-19, sejumlah warga mengaku, tak bisa mendapatkan penghasilan lantaran tak ada pesanan produk kerajinan, baik dari pabrik maupun supplier. Padahal warga sangat mengandalkan pesanan pabrik maupun supplier, karena selama ini mereka kesulitan jika harus memasarkan secara mandiri.

“Kalau dijual sendiri susah. Karena pasar lokal tidak banyak yang mau membeli. Jadi harus dijual ke luar negeri. Sementara banyak sekali warga yang tidak memiliki kemampuan itu. Sehingga hanya mengandalkan supplier maupun pabrik,” imbuh Jujuk.

Jujuk sendiri mengaku, sudah sekitar 10 tahun ikut bekerja di salah satu pengekspor kerajinan serat alam. Ia bertugas melakukan proses finishing produk kerajinan, hasil buah tangan ratusan warga di Desa Salamrejo.

Ada berbagai macam produk kerajianan bahan alam yang diproduksi. Mayoritas berasal dari bahan agel atau daun muda pohon gebang. Setelah diproses menjadi semacam benang, agel kemudiam dirajut secara manual menjadi sejumlah produk seperti tas, keranjang, sarung bantal, topi, hingga hiasan, dan sebagainya.

Warga lainnya, Ngatini (45) mengaku, bisa mendapatkan penghasilan hingga ratusan ribu setiap minggu dengan bekerja sebagai perajin serat alam. Dalam sehari ia mengaku, bisa membuat 2-3 biji produk kerajinan serat alam dengan cara dirajut. Satu produk kerajinan, warga biasanya diupah seharga Rp10-20 ribu.

“Jadi kita ambil bahan dari supplier. Lalu kita bawa ke rumah untuk dirajut menjadi produk setengah jadi, sesuai pesanan. Setelah selesai kita setor lagi ke pihak supplier untuk kemudian finishing sebelum akhirnya dipasok ke pabrik,” ungkapnya.

Sempat berhenti bekerja selama beberapa bulan lantaran tak ada pesanan, Ngatini mengaku bersyukur, bisa kembali mendapatkan pemasukan di tengah situasi pandemi seperti sekarang.

Ia hanya bisa berharap agar pandemi dapat segera berakhir sehingga ia bisa terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Lihat juga...