Pupuk Bersubsidi Langka, Pupuk Palsu Marak di Pasaran

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sejumlah petani di Kabupaten Sleman mengeluhkan banyaknya pupuk palsu yang beredar di pasaran. Hal itu terjadi sejak beberapa bulan terakhir, khususnya setiap memasuki musim tanam tiba.

Dengan selisih harga yang lebih murah, para petani mengaku sempat tertipu dengan pupuk palsu yang dikatakan sangat mirip dengan pupuk asli. Seperti diungkapkan salah seorang petani asal Ngijon, Sendangarum, Minggir, Sleman, Suprihatun (55).

“Setiap memasuki musim tanam seperti sekarang ini, pupuk bersubsidi sulit didapatkan. Jadinya banyak pupuk palsu yang beredar. Seperti misalnya jenis ponska. Sepintas memang mirip, namun jika dipakai baru tahu bedanya,” katanya, Senin (11/1/2021).

Suprihatun menyebut, meski sama-sama berlabel tulisan ponska dan berwarna merah, namun jika dipakai pupuk palsu akan sulit encer saat terkena air. Hal itu berdampak pada khasiat pupuk yang tidak dapat langsung diserap tanah dan tanaman.

“Kalau pupuk ponska asli harganya sekitar Rp125 ribu per sak. Nah untuk yang palsu itu lebih murah. Sekitar 120 ribu. Jadi selisih Rp5 ribu” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, banyaknya pupuk palsu yang beredar tersebut, semakin diperparah dengan langkanya pupuk bersubsidi bagi petani saat ini. Tingginya kebutuhan pupuk di musim tanam membuat stok di pasaran menjadi terbatas.

“Sampai saat ini saya sendiri juga belum mendapatkan pupuk. Karena jika ingin membeli pupuk yang bersubsidi harus memakai kartu tani. Sementara saya sendiri belum mendapatkan. Jadi ya belum tahu nanti cari pupuk di mana,” katanya.

Para petani seperti Suprihatin hanya bisa berharap agar pemerintah dapat memperlancar proses penerbitan kartu tani maupun distribusi pupuk, khususnya di musim tanam seperti sekarang ini. Sehingga petani tidak kesulitan dalam melakukan proses pemupukan.

Lihat juga...