Relawan: Pemulangan Pengungsi Erupsi Ile Lewotolok tidak Tepat

Editor: Makmun Hidayat

LEWOLEBA – Keputusan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memulangkan para pengungsi dinilai tidak tepat karena erupsi gunung api Ile Lewotolok masih terus terjadi serta adanya longsoran dan muntahan material bebatuan.

Selain itu, kondisi rumah masyarakat di beberapa desa yang berada di kaki gunung atap sengnya berlubang akibat dampak erupsi gunung api sehingga saat terjadi hujan penghuni rumah akan basah kuyup.

“Pemerintah harus memperbaiki rumah warga terlebih dahulu baru pulangkan mereka. Selain itu pastikan kondisinya sudah benar-benar aman,” tegas Benediktus Bedil, Koordinator Posko Barakat yang menangani pengungsi mandiri di Kota Lewoleba, saat dihubungi, Rabu (6/1/2021).

Koordinator Posko Barakat, Benediktus Bedil saat ditemui di poskonya, Sabtu (26/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ben sapaanya mengatakan, pengakuan masyarakat yang pulang pergi ke desa mereka, getaran akibat gempa masih terjadi dan intensitasnya semakin kuat.

Dia mengatakan, daerah Lamawolo,  Waimatan, dàn Lamagute berpotensi rawan longsor sehingga harus benar-benar dipikirkan sebelum pulangkan pengungsi.

Ditegaskannya, jika terjadi letusan hebat maka warga Desa Lamatokan hingga Aulesa terperangkap dan harus dievakuasi lewat laut.

“Kami semalam barusan pulang dari Lamawolo, desa yang dari segi topografi,  mengancam kenyamanan hidup masyarakatnya pasca-pengungsian erupsi Gunung Ile Lewotolok,” tuturnya.

Ben mengatakan saat berada di Desa Lamawolo bunyi letusan masih terdengar bahkan saat berada di luar rumah maka akan terkena abu akibat erupsi gunung api yang masih terjadi.

Dijelaskannya, di Lamawara hampir semua rumah  warga tetap berada dalam rumah dimana semua rumah beratap seng dan asbes atapnya berlubang.

Dia menyaksikan, di kamar-kamar rumah ada genangan air dan hamburan pasir yang belum dibersihkan sementara di ruangan lain ada tumpukan   kasur dan bantal tergulung ditutup plastik agar tidak terkena hujan.

“Semua kamar tidak layak memberi kenyamanan ketika hujan mengguyur. Mereka bahkan bingung ketika ditanya kalau hujan bagaimana? “ ucapnya.

Ben menegaskan, semestinya Pemda Lembata memulangkan pengungsi ketika kelayakan hidup sebagai manusia yang bermartabat di tempatnya pasca-bencana sudah terpenuhi.

Koordinator Relawan Komunitas Taman Daun, John Batafor jyga mengecam keras keputusan Pemerintah Kabupaten Lembata memulangkan pengungsi erupsi Gunung Api  Ile Lewotolok dari Posko Utama eks kantor Bupati Lembata ke desa mereka.

John mengatakan, dirinya menemukan banyak warga yang menangis lantaran rumah mereka tidak layak dihuni karena rusak parah sehingga dirinya sangat kecewa adanya keputusan pemulangan pengungsi.

“Beberapa warga bahkan tidak memiliki stok makanan ketika kembali ke rumahnya. Warga pun terpaksa bertahan di rumah mereka yang atapnya bocor,” sesalnya.

Lihat juga...