RW 04 Kelurahan Cirasas Sukses Kembangkan ‘Urban Farming’

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – RW 04 Kelurahan Ciracas, Jakarta Timur, sukses mengembangkan urban farming atau pertanian kota di lingkungannya. Semua warga bergerak melakukan penghijauan di halaman rumahnya, dengan menanam ragam sayuran melaui sistem hidroponik sebagai upaya ketahanan pangan. 

Ketua RW 04 Kelurahan Ciracas, Supriyadi. Mengatakan lahan perkotaan yang sempit akibat pemukiman yang makin padat, bukan berarti menghalangi kegiatan penghijauan lingkungan. Salah satu caranya adalah bisa dengan melaksanakan program urban farming. Media tanamnya melalui sistem hidroponik.

Menurutnya, aksi penghijauan itu terus dilakukan oleh perangkat RW, RT dan para kader di lingkungan.  Tujuannya untuk memberikan contoh kepada warga, bahwa lingkungan yang asri itu dapat memberikan manfaat yang baik bagi ketahanan pangan, apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini.

Ketua RW 04 Kelurahan Ciracas, Supriyadi, ditemui di taman inspirasi di lingkungan RW 04, Kelurahan Ciracas, Jakarta Timur, Senin (25/1/2021). -Foto: Sri Sugiarti

Setelah aksi menanam jenis sayuran digalakkan, warga sekitarnya menjadi tertular semangat untuk terus menanam sayuran secara urban farming.

Kini, menurut Supriyadi, hampir semua merata di 16 RT yang ada di lingkungannya melakukan kegiatan ketahanan pangan, dengan menanam sayuran melalui sistem hidroponik.

“Upaya menjaga ketahanan pangan melalui urban farming dengan sistem hidroponik menanam jenis sayuran, telah dilakukan bersama warga. Alhamdulillah, menuai hasil panen yang bagus,” ujar Supriyadi, kepada Cendana News,  Senin (25/1/2021).

Di menyebut, urban farming ini ada yang dilakukan secara pribadi oleh warga, dan ada juga yang terorganisir dengan perangkat RT dan kader.

Kesemua kegiatanan urban farming ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran warga akan penghijauan. Sehingga meskipun keterbatasan lahan, tapi masih bisa berkebun atau bertani di halaman rumah.

Dalam pengembangannya, budi daya sayuran ada di beberapa titik yang dikelola secara bersama dengan pemanfaatan lahan kosong dijadikan taman pangan. Jenis sayuran yang ditanam, di antaranya pokcai, sawi, kangkung, bayam merah dan lainnya.

Hasil panen sayuran sementara ini dijual ke warga dengan harga Rp15 ribu per kilogram. Hasil penjualan dimasukkan dalam kas RW dan RT digunakan untuk perawatan urban farming.

Warga berduyun-duyun ingin membeli sayuran hasil urban farming ini, kan nonnutrisi nggak pakai obat kimia.  Sayuran ini bebas pestisida, makanan sehat, baik dikonsumsi tubuh kita,” imbuhnya.

Dia mengatakan, ketahanan pangan mendapatkan tantangan tidak hanya pada situasi pandemi seperti saat ini. Tetapi, juga oleh ketidakseimbangan sistem pangan dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.

Urban farming, menurutnya mengedukasi masyarakat bahwa di lahan sempit kita bisa melakukan budi daya sayuran dengan sistem hidroponik.

“Selama ini, edukasi adalah pendekatan para kader  pada warga dengan memberi contoh tanam sayuran hidroponik, biar warga bergerak,” tukasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, meningkatkan kegiatan urban farming dapat membantu menggerakkan perekonomian di tengah pandemi Covid-19. Selain untuk ketahanan pangan rumah tangga, hasil dari urban farming bisa dipasarkan.

Karena selain warga dapat menyantap sayuran sehat, juga taraf ekonomi mereka dapat meningkat dari hasil panen sayurannya.

Dia menambahkan, RW 04 menjadi pilot projek kelurahan Ciracas dalam pengembangan penghijauan lingkungan. Bahkan masuk nominasi program nasional.

Menurutnya, ini menjadi tantangan berat, namun jika dilaksanakan bersama warga akan menjadi ringan. Dia berharap, ke depan masyarakat akan sadar dan bisa memanfaatkan lahan yang sempit di halaman rumahnya dengan tanaman. Di samping dapat menjadikan ketahanan pangan dan lingkungan RW 04 ini asri dan hijau.

“Intinya, swadaya dan kesadaran warga, kita menjadi pilot projek di kelurahan Ciracas dan masuk nominasi program nasional,” pungkasnya.

Lihat juga...