Sampah Kotori Destinasi Wisata Bahari di Lamsel

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Pengaruh gelombang pasang di sejumlah perairan laut, menyebabkan sampah kiriman menumpuk di sejumlah destinasi wisata bahari di Lampung Selatan. Pengelola objek wisata pun melakukan pembersihan, agar sampah tak mengganggu kenyamanan pengunjung.

Rohmat, ketua Pokdarwis Ragom Helau, pengelola objek wisata pantai Belebuk, pantai dan pulau Mengkudu, mengaku volume sampah meningkat sejak sepekan terakhir. Gelombang pasang membawa sampah jenis plastik, kayu, dan limbah pertanian.

Objek wisata bahari pantai dan pulau di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, dikotori sampah.

Meski demikian, Rohmat menyebut penutupan objek wisata pada akhir tahun hingga tahun baru dimanfaatkan untuk pembersihan sampah itu. Kembali dibuka sejak Minggu (3/1/2021), sejumlah sampah yang terdampar dan mengotori pantai terus dibersihkan.

Andi Cahyadi, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Kelas IV Panjang, Lampung, saat melakukan pemantauan kondisi pelabuhan Bakauheni
bersama Basarnas, Rabu (23/12/2020). -Dok: CDN

Pengelola pantai telah mengantisipasi kondisi alam, terutama saat angin baratan. Ketinggian gelombang saat sore hingga malam mencapai 1,25 meter hingga 2,5 meter. Imbasnya, sampah yang terbawa arus perairan Selat Sunda terbawa ke destinasi wisata bahari. Volume sampah menurutnya bisa mencapai dua ton saat dikumpulkan.

“Cuaca yang didominasi gelombang pasang berdampak pada kotornya perairan dan pantai, sekaligus mengganggu perjalanan wisatawan karena sebagian menggunakan akses jalur laut, sehingga perlu kewaspadaan sekaligus penggunaan alat keselamatan saat akan berkunjung memakai perahu,” terang Rohmat, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (3/1/2021).

Rohmat bilang, spot wisata yang telah dibersihkan menjadi daya tarik bagi wisatwan. Terlebih pulau Mengkudu dan pulau Sumatra terhubung dengan pasir timbul yang menarik bagi wisatawan. Spot foto berupa jembatan bambu terhubung ke sebuah saung bisa menjadi lokasi untuk menikmati keindahan pulau Mengkudu dan batu lapis. Sampah yang masih tersisa akan dibersihkan oleh petugas secara bertahap.

Sejak ditutup selama dua hari, pengunjung ke destinasi wisata bahari pulau Mengkudu ramai dikunjungi. Akses menuju ke objek wisata menggunakan jalur darat dan laut. Pengelola tetap memperhatikan imbauan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Maritim Kelas IV Panjang, Lampung. Prakiraan cuaca selalu dipantau untuk keselamatan dan kenyamanan pengunjung.

“Penjaga pantai atau balawista akan mengingatkan wisatawan agar memakai pelampung saat berenang, dan menerapkan protokol kesehatan,” sebutnya.

Sejumlah pelaku usaha jasa penyewaan perahu, menurutnya diminta waspada. Gelombang perairan diantisipasi dengan kapasitas penumpang yang dibatasi. Setiap pengunjung menggunakan perahu dari pantai Belebuk harus dicatat manisfest penumpang. Kesiapan pengelola juga dilakukan dengan pelampung, ring buoy, tali dan alat keselamatan lengkap.

Sampah yang mengotori pantai juga diakui Mian, salah satu pelaku usaha wisata pantai Minang Rua. Sembari melayani pengunjung yang datang, pembersihan pantai dari sampah terus dilakukan. Ombak dan gelombang pasang berimbas sampah terbawa arus dan terdampar di pantai yang berada di Desa Kelawi tersebut.

Menurut Mian, sampah pantai Minang Rua didominasi ranting, kayu, bambu dan plastik. Fase gelombang pasang oleh angin barat secara alami akan bersih ketika gelombang pasang berlangsung. Normalnya, gelombang pasang akan terjadi sejak sore hingga malam hari. Pengunjung yang akan berenang tetap diimbau memperhatikan faktor keselamatan.

“Bagi anak-anak tetap dipantau oleh orang tua dengan memakai pelampung ban dalam menjaga keselamatan, saat berenang,” cetusnya.

Sementara, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Kelas IV Panjang Lampung, Andi Cahyadi, saat dihubungi mengatakan, sesuai prakiraan cuaca BMKG, wilayah Lamsel dominan berpotensi terjadi hujan lebat disertai kilat, petir dan angin kencang. Di wilayah perairan tempat wisata, jalur penyeberangan, masyarakat diminta waspada. Gelombang rendah hingga sedang berpotensi terjadi.

Andi Cahyadi bilang, perairan Timur Lampung berpotensi terjadi gelombang sedang setinggi 0-0,5 meter. Perairan Selat Sunda bagian Barat gelombang sedang setinggi 1,25 meter hingga 2,5 meter. Kecepatan angin di sejumlah perairan Lampung mencapai 2 hingga 20 knot. Kewaspadaan juga diperlukan para nakhoda kapal penyeberangan dan jasa perahu wisata. Selain gelombang, jarak pandang oleh hujan juga mengganggu pelayaran.

Lihat juga...