Sekolah Miliki Peran Menyemai Benih Pendidikan Abad 21

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sekolah miliki peran dalam menyemai benih pendidikan pada abad 21. Lembaga pendidikan kualitas sumber daya manusia (SDM) pendidik sangat diperlukan. Mendidik anak untuk masa depan seperti merawat benih dengan sekolah diasosiasikan sebagai tempat penanam benih.

Romo Andreas Sutrisno, ketua Yayasan Xaverius Tanjung Karang, Lampung menyebutkan, peran penting dunia pendidikan dalam membentuk generasi penerus bangsa jadi perhatian bagi guru. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 perubahan pola belajar mengajar mengharuskan guru melakukan inovasi. Sebagai penyemai benih, para guru dengan SDM yang dimiliki wajib memiliki pemahaman akan karakter peserta didik.

“Guru juga diandaikan sebagai penanam benih yang memiliki tugas untuk merawat sejak masa pertumbuhan hingga bisa menjadi benih berkualitas sebagai generasi penerus bangsa pada masa mendatang, terutama pada Yayasan Xaverius Lampung menyesuaikan perkembangan zaman,” terang Romo Andreas Sutrisno saat webinar secara virtual, Kamis (21/1/2021)

Sekolah sebut Andreas Sutrisno bisa menciptakan benih bermutu dengan adanya kualitas SDM yang baik. Melalui diskusi virtual tersebut diharapkan guru bisa meningkatkan mutu pendidikan pada abad 21.

Setiap guru ikut menjadi penentu kesuksesan setiap anak melalui dunia pendidikan. Demikian diungkapkan Albertus Fiharsono,S.Pd.,M.Hum selaku narasumber dalam webinar yang digelar oleh SMA Xaverius Pringsewu tersebut.

Pria yang menetap di Australia untuk pendidikan lanjutan mengatakan, mengacu pada sebuah riset di Amerika Serikat terhadap ratusan Miliuner yang dilakukan oleh Thomas Stanley, sebanyak 100 faktor yang berpengaruh pada kesuksesan di antaranya mengacu pada sejumlah indikator.

“Selama ini sejumlah sekolah berpaku pada nilai akademik anak didik dalam menentukan kesuksesan, padahal masih banyak indikator lain sehingga guru masa kini perlu memahami hal tersebut,” terangnya.

Pria yang juga dosen Bahasa Inggris di Kolose Pendidikan Merauke, Papua itu menambahkan guru perlu memahami setiap anak didik bisa sukses. Nilai akademik yang selama ini dianggap sebagai indikator kesuksesan seseorang terbukti dari sebanyak 773 miliuner di Amerika Serikat memperlihatkan nilai akademik menjadi faktor kesuksesan urutan ke-30.

“Riset peneliti di Amerika Serikat ini bisa menjadi gambaran untuk merubah pola pikir tenaga pendidik dalam pendidikan pada masa kini,” cetusnya.

Dalam kurikulum di Indonesia sejumlah faktor yang dominan merupakan kepribadian yang ideal tersebut soft skill. Kemampuan untuk menerapkan kepribadian baik tersebut menjadikan guru bisa memahami bahwa setiap anak adalah benih yang potensial. Visi sekolah yang kuat terwujud dalam kultur yang menyeimbangkan nilai akademik dan kepribadian.

Albertus Fiharsono menggambarkan sistem pendidikan di Australia dimana anaknya duduk di bangku SMP. Meski tidak sebagian sistem pendidikan Australia bisa diterapkan, namun sejumlah nilai positif bisa diadopsi. Pada masa pandemi Covid-19 peranan sekolah untuk mengutamakan keselamatan, kesehatan siswa jadi hal yang juga dilakukan di Indonesia.

“Visi positif yang bisa diadopsi diantaranya bertanggung jawab, berperilaku aman, menjadi pembelajar aktif,” tegasnya.

Perkembangan dunia pendidikan yang menjadi penyemai benih dipengaruhi oleh guru. Selain itu peran orangtua dalam mendukung anak akan menumbuhkan faktor penentu kesuksesan. Pemahaman orangtua bahwa nilai akademik bukan faktor penentu kesuksesan akan mengubah pola pikir untuk memaksa anak sekedar pintar. Sebab sejumlah kepribadian ikut mendorong anak jadi benih yang tumbuh baik.

Lihat juga...