Sorgum Jenis Lokal Lebih Disukai Petani di NTT

Editor: Makmun Hidayat

LARANTUKA — Sorgum terdapat di Kabupaten Flores Timur dan beberapa wilayah kabupaten lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih disukai untuk ditanam oleh petani karena sudah terbiasa menanamnya.

Selain itu, setiap petani memiliki fanatisme tersendiri terhadap jenis sorgum yang ditanam meskipun ada varietas unggul yang ditawarkan namun petani tidak mau menanamnya.

Sementara Maria Loretha, pegiat sorgum di Flores Timur menegaskan, terkait konservasi pihaknya sudah berjuang mendaftarkan jenis lokal menjadi varietas unggul.

“Sulit mengajak petani untuk menanam varietas unggul dari luar NTT karena petani sudah terbiasa menanam benih lokal,” kata Maria Loretha, saat dihubungi Cendana News, Senin (4/1/2021).

Maria Loretha saat ditemui di kebunnya di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Sabtu (29/6/2020) -Foto: Ebed de Rosary

Maria menyebutkan, varietas yang didatangkan dari luar tidak terlalu cocok untuk dikembangkan di NTT karena iklim dan kondisi tanah yang ada pun tidak sama dengan daerah di luar NTT.

Untuk itu ucapnya, Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka (Yaspensel) terus mencatat jenis-jenis lokal dan melakukan penyilangan varietas serta mendaftarkannya menjadi varietas unggul.

“Kami sedang mendaftarkan beberapa jenis lokal untuk dijadikan varietas unggul sehingga bisa dijadikan benih dan dibudidayakan di berbagai wilayah di Indonesia,’ ujarnya.

Peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Serelia, Balitbangtan Kementerian Pertanian, Dr. Marcia Bunga Pabendon, MP, mengatakan, dengan jenis lokal produksi mencapai 2 sampai 3 ton per hektarenya.

Marcia menyebutkan, dengan potensi sorgum yang sebenarnya bisa mencapai 7 ton per hektare. seharusnya dengan agroekosistem yang sangat kondusif di NTT itu bisa dicapai.

“Musim kering yang panjang sudah menjadi hal lumrah,namun dengan musim tanam yang tepat maka produksi bisa ditingkatkan. Beberapa jenis lokal seperti Okin, Kuali, Waiotan dan Watasolot, akan diproses menjadi varietas,” ungkapnya.

Marcia menjelaskan, jenis lokal harus tetap dipertahankan sebagai sumber gen potensial karena memiliki ketahanan biotik hama dan penyakit.

Selain itu kata dia, juga memiliki ketahanan abiotik misalnya toleran saninitas, toleran kemasaman yang sangat diperlukan dalam perakitan varietas unggul baru.

Namun menurutnya, kelemahan jenis lokal terletak pada produksinya yang rendah sehingga harus diupayakan peningkatan produksinya.

“Untuk mengatasinya maka dalam perakitan varietas harus disilangkan dengan gen-gen dengan ketahanan tinggi sehingga hasil produksi tinggi dan mempunyai ketahanan biotik dan abiotik,” jelasnya.

Marcia menyebutkan, populasi tanaman sorgum di Flores Timur juga masih rendah sebab selama ini jarak tanam 70×30 sentimeter padahal bisa mencapai 70×15 sentimeter.

Pihaknya sudah menghitung analisis ekonominya menguntungkan dengan penggunaan pupuk organik yang bisa diproduksi sendiri oleh petani.

“Perlu perluasan areal tanam pada lahan-lahan marjinal sebab pengembangan sorgum di NTT input-nya rendah namun output-nya tinggi. Perlu pendampingan yang berkesinambungan,” sarannya.

Lihat juga...