Sudarmi: Olahan Singkong Tingkatkan Nilai Jual

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Sejumlah warga di desa Sendang Agung, Minggir, Sleman Yogyakarta, memanfaatkan singkong hasil panen kebun pekarangan rumah mereka menjadi olahan makanan berupa Lempeng Tiwul.

Lempeng Tiwul ini dibuat dari bahan dasar ketela atau singkong yang diubah menjadi Gaplek, dengan cara dijemur dan dikeringkan lalu ditumbuk.

Selain menjual produk jadi, berupa Lempeng Tiwul, mereka juga biasa menjual produk mentah berupa tiwul atau gaplek tersebut langsung ke pasar-pasar.

Salah seorang warga, Sudarmi, mengaku sudah mulai mengolah singkong menjadi gaplek ataupun tiwul ini sejak lama. Meski begitu ia mengaku hanya memproduksi tiwul jika sedang memasuki masa panen saja.

“Kebetulan habis panen singkong. Makanya langsung diolah menjadi gaplek. Agar nilai jualnya meningkat. Kalau dijual mentah ya tidak laku,” ujarnya Selasa (26/01/2021).

Dengan mengolah singkong menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi itu, Sudarmi mampu meningkatkan harga jual singkong dari yang semula hanya Rp3000-4000 per kilogram menjadi Rp10ribu-Rp20ribu per kilogram lebih.

Dari situlah ia mengaku bisa mendapatkan pemasukan tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

“Kalau tiwul itu dijual laku sekitar Rp10 ribu per kilogram. Sedangkan jika diolah lagi jadi lempeng, bisa meningkat sampai Rp20 ribu per kilogram,” katanya.

Proses pengolahan ketela menjadi tiwul maupun lempeng tiwul itu sendiri cukup mudah. Yakni singkong diiriis tipis kemudian dijemur hingga kering. Setelah kering, gaplek kemudian ditumbuk halus menjadi tiwul.

“Paling lama prosesnya saat pengeringan. Kalau sedang musim hujan seperti ini bisa sampai 5-7 hari. Tapi kalau sedang panas ya 2-3 hari kering,” ungkapnya.

Sementara untuk memproduksi lempeng tiwul, Sudarmi menjelaskan tiwul harus direndam air selama beberapa menit. Kemudian ditambahkan bumbu berupa bawang putih, kemiri, gula pasir, ketumbar, serta garam.

“Setelah itu kukus lalu iris tipis-tipis. Keringkan di bawah matahari selama dua-tiga hari. Setelah benar-benar kering bisa langsung dijual. Untuk memasaknya tinggal digoreng saja. Lempeng tiwul sudah bisa dinikmati,” pungkasnya.

Lihat juga...