Taman Baca Restorasi di Sikka Didik Anak Literasi Digital

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Untuk mengalihkan anak-anak dari kesibukan menonton televisi saat malam hari, Taman Baca Restorasi di Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, membuat literasi digital. Anak-anak diajak menonton film-film yang dapat memberikan nilai edukasi, sehingga bisa mengalihkan perhatian mereka dari siaran televisi yang tidak sesuai dengan usianya.

“Kita membuat literasi digital dengan memutar film, dan mendampingi anak-anak untuk menonton film-film yang dapat memberikan nilai edukasi,” kata Remigius Nong, pendiri sekaligus pengelola Taman Baca Restorasi di Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, saat ditemui Cendana News, Kamis (14/1/2021).

Pendiri dan pengelola Taman Baca Restorasi di Patisomba, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT,Remigius Nong, saat ditemui di rumahnya, Kamis (14/1/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Remi, sapaannya, mengatakan anak-anak juga diajarkan membaca dan menulis bersama, sehingga bisa mengurangi waktu mereka bermain maupun menonton sinteron di rumahnya.

Anak-anak, kata dia, juga dilatih untuk menulis sesuai pengalaman pribadi mereka setiap harinya, seperti membantu orang tua menanam sayuran dan memanennya.

“Kami juga akan melakukan literasi ekologi kepada masyarakat Patisomba di sekitar taman baca, agar mereka lebih mencintai lingkungan dan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan,” ungkapnya.

Remi menambahkan, pihaknya akan mengajarkan cara pengolahan sampah di sekitar rumah mereka masing-masing, agar bisa dijadikan sumber pendapatan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

“Buku-buku bacaan tentang pertanian akan kami perbanyak, agar bisa mendukung usaha para petani sayur, yang banyak  bermukim di sekitar Taman Baca Restorasi ini,” ujarnya

Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) NTT, Polikarpus Do, menyebutkan bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pihaknya mendapatkan dana untuk membuat taman baca di seluruh NTT.

Polikarpus menjelaskan, untuk seluruh Indonesia, provinsi NTT mendapatkan bantuan terbanyak dalam program rintisan taman baca ini selama 2020, agar bisa mengejar ketertinggalan.

“Kita ingin ketertinggalan kita saat ini harus segera diselesaikan dengan menghadirkan aksesibilitas Taman Baca Masyarakat (TBM),” ucapnya.

Polikarpus menjelaskan, TBM  bukan menawarkan konsep buku menumpuk. Tetapi ruang literasi untuk semua masyarakat demi mengakses informasi, pengetahuan, kemampuan serta penumbuhan dan pengembangan sikap.

Disebutkannya, terdapat 6 literasi dasar yang minimal harus dikuasai oleh masyarakat, yakni literasi membaca dan menulis, numerik (numerasi), sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan.

“Perkembangan teknologi yang begitu pesat tentunya menjadi tugas kita bersama untuk memperkuat beberapa komponen, yakni melalui literasi keluarga dan mendekatkan buku dengan anak-anak, agar memperkuat sumber daya manusia mereka,” pungkasnya.

Lihat juga...