Taman Baca Restorasi di Sikka Solusi Entaskan Buta Aksara

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutkan, ada 6 wilayah yang penduduknya masih memiliki kasus buta aksara tertinggi di Indonesia, yakni Papua 21,9 persen, Nusa Tenggara Barat  7,46 persen, NTT 4,24 persen, Sulawesi Selatan  4,22 persen, Sulawesi Barat 3,98 persen dan Kalimantan Barat 3, 81 persen.

“Kita membuat taman baca sebagai salah satu solusi untuk mengatasi buta aksara di NTT yang masih sangat tinggi,” kata Remigius Nong, pendiri Taman Baca Restorasi saat ditemui Cendana News di Taman Baca Restorasi di Patisomba,Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Jumat (15/1/2021).

Remi, sapaannya, mengatakan taman baca bukan hanya diperuntukan bagi anak-anak sekolah saja. Tetapi, kepada masyarakat umum yang ingin mendapatkan pengetahuan dengan menyediakan buku-buku bacaan.

Dia berharap, kehadiran taman baca bisa meningkatkan pengetahuan warga di sekitarnya serta membantu mengentaskan buta aksara di NTT yang masih tergolong sangat tinggi sekali.

“Semoga kehadiran banyak taman baca bisa membantu mengentaskan buta aksara dan membuat anak-anak lebih tertarik akan dunia literasi. Saat ini, tantangan untuk menjadikan literasi sebagai budaya sangat besar, karena perkembangan teknologi digital,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) NTT, Polikarpus Do, menyebutkan, NTT merupakan provinsi dengan buta aksara tergolong tinggi dan masuk zona merah buta aksara urutan ke tiga di Indonesia, sehingga hal ini sangat memprihatinkan.

Polikarpus menyebutkan, buta aksara tersebut terjadi pada usia 15 hingga 59 tahun dan belum bisa dituntaskan, karena literasi di sekolah-sekolah formal belum terlalu kuat untuk mengatasinya.

“Penelusuran yang dilakukan FTBM NTT, mendapati ada anak-anak SMP yang belum lancar membaca. Ini menjadi tugas semua, termasuk pihak sekolah untuk membuat literasi sekolah,” tuturnya.

Polikarpus juga menyesalkan perpustakaan yang ada di sekolah sejauh ini belum juga mampu menjadi rumah literasi, dan lebih banyak dijadikan tempat menyimpan barang bekas.

“Banyak perpustakaan yang berada di belakang gedung sekolah. Harusnya perpustakaan berada di depan gedung sekolah, agar mudah dilihat dan diakses para pelajar,” sarannya.

Lihat juga...