Tanaman Embet Jaga Kelestarian Embung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Tanaman seperti rumput, tumbuh subur di area rawa menjadi tempat bersarang burung rawa. Tanaman yang dikenal dengan embet atau kerap disebut lembang, bernama ilmiah Typa angustifolia L tersebut memiliki bunga seperti cerutu. Tumbuh liar di area embung, tanaman itu mampu bertahan kala kemarau panjang, dan subur kala penghujan.

Sumantri, salah satu warga Bakauheni, Lampung Selatan, menyebut tanaman itu kerap ditemukan di rawa area pesisir. Tumbuh pada kawasan rawa, rumpun tanaman embet kerap menjernihkan air. Area yang ditumbuhi embet kerap menjadi habitat ikan air tawar dan air payau, seperti ikan nila,mujair,bandeng dan udang. Bagi area embung, tanaman itu ikut menjaga ketersediaan air karena batang menyerap air.

Kala kemarau, embung yang ditumbuhi embet masih menyediakan pasokan air. Sebagai tanaman air, pemilik tambak kerap menanamnya pada tanggul penangkis untuk menjernihkan air. Pasokan air dari laut yang mengalir melalui kanal, akan disaring secara alami sebelum masuk area tambak. Akar yang kuat sekaligus menahan longsor area tambak kala penghujan.

Sumantri (kiri), memancing ikan pada embung di Dusun Muara Piluk,Desa Bakauheni, Lampung Selatan, pada area rawa yang ditumbuhi tanaman embet, Rabu (20/1/2021). -Foto: Henk Widi

“Bagi masyarakat tradisional, tanaman menyerupai mendong dan pandan air tersebut kerap dibuat menjadi atap gubuk dan dibuat menjadi anyaman tikar, topi, namun kini hanya dijadikan sebagai penyaring atau filter alami untuk lahan tambak dan dipertahankan pada area embung,” terang Sumantri, saat ditemui Cendana News, Rabu (20/1/2021).

Tumbuhan embet yang memiliki rumpun, sebutnya, juga kerap menjadi tempat bersembunyi ikan. Melengkapi vegetasi rawa yang terhubung dengan laut pesisir Bakauheni, embet kerap tumbuh bersama mangrove atau bakau. Kedua jenis tanaman tersebut efektif mencegah terjadinya gerusan erosi oleh ombak. Pada kawasan embung Muara Piluk, vegetasi bakau dan embet tumbuh berdampingan menjadi habitat alami burung air.

Sumantri mengatakan, saat penghujan dengan debit air meningkat, embet kerap tergenang. Masa pemijahan ikan kerap memanfaatkan rerimbunan tumbuhan embet di embung. Kegiatan memancing di area tanaman embet, kerap mendapat ikan gabus, nila dan mujair. Saat ini, embet yang tumbuh di rawa mulai dilirik sebagai tanaman hias yang ditanam bersama dengan mawar air dalam pot.

“Fungsi embet yang memiliki kemampuan menyaring air kotor menjadi bersih, kerap sengaja ditanam di area pembuangan limbah tambak,” cetusnya.

Keberadaan embet bagi kelestarian embung, juga dimanfaatkan untuk mengurangi penguapan. Sukmanto,  penghobi memancing menyebut keberadaan embung yang ditanami embet memiliki dampak positif. Saat musim penghujan, penyerapan air yang berlimpah bisa dilakukan oleh akar embet yang panjang. Penanaman embet sekaligus menjaga kualitas air embung untuk keberlangsungan budi daya ikan tradisional.

“Tanpa harus memberi pakan buatan, embet bisa menjadi penyedia pakan alami bagi ikan dan pasokan air tersedia hingga kemarau,”cetusnya.

Selain di Muara Piluk, embung yang ditumbuhi embet di Muara Bakau menjadi juga sumber pengairan lahan pertanian. Siami, salah satu petani, menyebut keberadaan embet mendukung keberlangsungan pasokan air. Serapan air yang sempurna dari tanaman tersebut membuat embung mengalami penguapan lebih lambat. Pasokan air pada embung yang ditumbuhi embet menjadi sumber penyiraman air.

Embung yang ditumbuhi embet, sebutnya, kerap jadi area tumbuh kolomento dan tanaman air. Sumber rumput pakan alami ternak sapi dan kerbau tersebut tetap bisa diperoleh meski musim kemarau. Selain itu, embet bisa dipanen sebagai bahan bakar untuk penghangat kandang. Atap kandang ternak tradisional juga kerap memanfaatkan embet. Area di dekat embung yang ditumbuhi embet dimanfaatkan olehnya untuk menanam sayuran dengan pasokan air yang lancar.

Lihat juga...