Tas Sulam Purbalingga Rambah Pasar Digital

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Produksi tas sulam warga Desa Muntang dan Desa Gambarsari, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga mulai merambah pasar digital.

Produk kerajinan yang merupakan hasil dari pelatihan ekonomi kreatif dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto ini mempunyai jaringan pemasaran lebih luas.

Salah satu pegiat produksi tas sulam yang juga warga Desa Muntang, Roro Hendarti mengatakan, di tengah pandemi Covid-19, pemasaran digital menjadi pilihan yang paling tepat untuk memperluas usaha. Sebab, aktivitas fisik serba terbatas, begitu pula dengan mobilitas para calon pembeli.

“Kita sangat berterima kasih sudah difasilitasi untuk bisa masuk pasar tuka-tuku yang merupakan program Pemkab Purbalingga dengan menggandeng jaringan toko online terkemuka. Sehingga pemasaran semakin luas dan pesanan yang datang juga semakin banyak,” tuturnya, Selasa (19/1/2021).

Produk tas sulam yang dibuat dengan memanfaatkan limbah ini, diproduksi oleh tiga orang warga Desa Muntang termasuk Roro dan dua orang warga Desa Gambarsari. Karena keterbatasan tenaga, jumlah produksinya memang belum terlalu banyak.

Namun, dengan terbukanya pemasaran online, Roro mengaku siap untuk menambah jumlah produksi. Yaitu dengan memberdayakan warga desa setempat. Roro siap untuk memberikan pelatihan, hingga mereka bisa dan terampil membuat tas sulam.

“Kita akan membuat pelatihan dalam waktu dekat ini, keterampilan yang kita peroleh dari LPPM Unsoed akan kita tularkan kepada warga desa lainnya yang bersedia untuk bekerjasama memproduksi tas sulam. Karena kemarin saat pelatihan dari LPPM Unsoed memang hanya diikuti oleh lima orang saja, termasuk saya, tetapi kita siap untuk berbagi ilmu keterampilan produksi tas sulam ini,” katanya.

Pelatihan tersebut, lanjut Roro, akan dilaksanakan dengan berkoordinasi bersama pihak desa. Nantinya tiap RT atau RW diminta untuk mengirimkan satu orang guna mengikuti pelatihan produksi tas sulam. Sehingga ke depan, dua desa tersebut memiliki perajin tas sulam yang lebih banyak lagi dan siap menerima pesanan dalam jumlah banyak pula.

Sementara itu, Kepala Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) Kabupaten Purbalingga, Adi Purwanto mengatakan, pihaknya mendorong produk-produk UMKM lokal untuk bisa masuk ke program tuka–tuku.

Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Untuk produk tas sulam misalnya, harus lolos kurasi produk yang meliputi kerapian jahitan, kualitas bahan, ketersedian barang dan lainnya.

“Kita sudah lakukan kurasi produk tas sulam dan hasilnya memenuhi syarat. Kurasi ini penting, supaya produk yang kita jual di tuka-tuku terjaga kualitasnya dan pembeli juga puas, sehingga kontinuitas pemesanan akan berjalan,” jelasnya.

Lihat juga...