Tempat Tidur Apung, Alat Evakuasi Alternatif Korban Banjir

JAKARTA — Bencana alam di sejumlah daerah di Indonesia menjadi problem besar yang perlu diatasi secara komprehensif. Untuk menghadapi bencana dengan luasan besar seperti banjir, maka mitigasi berbasis masyarakat merupakan pilihan tepat.

Dosen manajemen kebencanaan alam S2 Epid Undip, Semarang, Dr. dr. Budi Laksono, MHSc menyebutkan, salah satu problem pada saat bencana banjir adalah evakuasi.

“Luasnya daerah banjir dan banyaknya korban terisolasi karena banjir membuat fasilitas evakuasi yang dimiliki pemerintah kurang efektif. Pada saat banjir keluarga yang memerlukan perahu evakuasi sangat banyak,” kata dr Budi melalui keterangan tertulis kepada Cendana News, Selasa (19/1/2021).

Menyiasati keadaan yang kurang mendukung tersebut, maka dr Budi yang juga sebagai relawan kebencanaan mengenalkan hasil kreasinya berupa tempat tidur apung anti banjir sebagai family bed boat.  Pilot tempat tidur apung ini dibuat sejak tahun 2005 di Aceh dan pada tahun 2013 sempat dipresentasikan dalam konferensi internasional disaster management di Australia.

DR. dr. Budi Laksono, MHSc -Foto: Ist

Dijelaskan dr Budi, tempat tidur apung anti banjir diilhami dari pengalamannya saat membantu korban bencana alam di Aceh pada tahun 2005. Pada saat itu, kata dr Budi, banyak sekali botol air minum kemasan yang dibuang karena sudah kosong.

“Karena berisiko menjadi perinduan nyamuk, maka saya meminta pada korban bencana untuk mengumpulkan botol pada satu tempat di dekat tenda kami. Terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan botol terkumpul,” tuturnya.

Pada saat itu tidak terpikir untuk apa. Akan tetapi dr Budi kemudian ingat sebuah tayangan televisi tentang seorang yang membuat pulau dari botol bekas di Miami untuk tempat tinggalnya. Maka ketika dr Budi melihat beberapa kantong mayat tidak dipergunakan, serta sulitnya pengungsi mencari ikan di Laguna yang dibentuk oleh tsunami di Meunasah Baku, maka ia berpikir untuk membuat perahu apung dari botol.

Karena membuat perahu tidak mudah, maka konsep perahu apungnya adalah tempat tidur kayu terapung. Ia dibantu relawan PMI Aceh Besar lalu membuat tempat tidur kayu dengan 4 kaki. Di bawah tempat tidur tersebut dipasang kantong mayat yang sudah ada isi botol kosongnya. Dibuat sedemikian sehingga stabil.

“4 kantong mayat kami pasang di kanan dan kiri. Kemudian dibawa ke Laguna dan ternyata di sana bisa untuk menjaring ikan di tengah Laguna. Bahkan dalam lomba teknologi tepat guna KSR Semarang, tim IKIP melakukan hal yang sama,” ungkapnya.

Dengan seringnya kasus banjir dan susahnya evakuasi keluarga, dr Budi lantas merancang penggunaan tempat tidur apung sebagai sarana evakuasi keluarga pada bencana banjir berbasis masyarakat.

Menurut dr Budi, pembuatan tempat tidur apung ini murah, mudah dan tidak merusak estetika tempat tidur. Bila setiap keluarga bisa mempunyai tempat tidur, maka setiap keluarga akan mudah melakukan evakuasi sendiri atau terpimpin bila banjir.

“Karena pembentukannya tidak merusak estetika, maka tempat tidur yang dimodifikasi tidak tampak sebagai perahu apung pada saat dipakai sehari-hari,” jelasnya.

Menurut dr Budi, tempat tidur apung paling mudah dibuat dari tempat tidur konvensional kayu yang banyak dimiliki keluarga. Caranya sederhana. Di bawah tempat tidur, diikatkan benda yang bisa mengapungkan seperti jerigen air kosong, botol air minum kemasan yang diikat, busa elektronik yang diikatkan dengan tempat tidur.

“Bila diperlukan untuk menampung 4 orang, maka diperlukan kurang lebih 8 jerigen air kotak atau jerigen dispenser besar 20 liter,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan dr Budi, dalam keadaan sehari-hari ditutup dengan sprei, maka tidak akan tampak aneh pada tempat tidurnya. Sprei yang menjulur ke bawah akan menutup pelampung di bawah tempat tidur.

“Bila terjadi banjir, otomatis tempat tidur akan terapung. Bila diperlukan untuk evakuasi, maka tempat tidur bisa dibawa keluar dan anggota keluarga yang perlu dievakuasi berada di atas. Untuk pergerakannya bisa dengan dayung yang disembunyikan juga di bawah tempat tidur,” bebernya.

Keunggulan tempat tidur apung ini, menurut dr Budi, mudah dan murah. Dikatakan mudah karena hanya tinggal mengikat jerigen pada bingkai tempat tidur saja. Maka sudah jadi. Selain itu, mudah kembali ke normal. Bila sudah selesai dimanfaatkan, maka bisa langsung dikembalikan ke fungsi tempat tidur seperti sebelumnya.

“Juga bisa disesuaikan kebutuhan keluarga. Bila diperlukan untuk anggota keluarga banyak, maka tinggal memilih tempat tidur besar dan jerigen lebih banyak,” katanya.

Pembuatan tempat tidur apung juga terbilang murah. Dokter Budi mengatakan, harga satu jerigen di kisaran Rp15.000, maka bila diperlukan 6 jerigen hanya perlu Rp90.000 saja.

Dengan adanya tempat tidur apung, pada saat banjir melanda maka setidaknya ini bisa menjadi salah satu pilihan tepat dalam mitigasi berbasis masyarakat.

“Bila datang musim hujan, maka seperti yang selalu dikhawatirkan, banjir akan segera datang pada daerah yang sebelumnya juga sudah mengalami. Perkiraan hebatnya banjir tahun ini yang di-release oleh lembaga peduli lingkungan beberapa waktu lalu, menambah kekhawatiran kita semua tentang banjir ini,” kata dr Budi.

Bila pada sebelumnya, hampir setiap banjir menimbulkan kesulitan, maka ke depan akan lebih sulit lagi. Masyarakat kesulitan, tidak bisa mengatasi banjir dengan baik karena tidak memiliki sarana. Sementara itu, badan penanggulangan bencana alam juga sulit, karena bencana penyebarannya meluas sehingga tidak bisa berbuat banyak dengan fasilitas yang dimilikinya.

Untuk itu, mitigasi berbasis masyarakat merupakan pilihan tepat. Salah satunya bisa dilakukan dengan membuat tempat tidur apung yang boleh dibilang mudah dan murah. (Hid)

Lihat juga...