Wali Kota Semarang Sebut Kasus Covid-19 Menurun Selama PPKM

Editor: Koko Triarko

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, di Balaikota Semarang, Jumat (22/1/2021). -Foto: Arixc Ardana

SEMARANG – Sejak penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sejak 11 Januari 2021, angka penyebaran Covid-19 di Kota Semarang mulai mengalami penurunan. Sebelumnya, jumlah Covid-19 aktif menyentuh angka di atas 1.000 kasus, kini per Jumat (22/1/2021), berdasarkan data siagacorona.semarangkota.go.id, tercatat 854 kasus, dengan 605 merupakan warga Kota Semarang.

“Pada awal-awal penerapan PPKM, angka Covid-19 di Kota Semarang tinggi di atas 1.000 kasus, kini seiring waktu sudah mulai menurun. Jika sebelumnya kasus baru mencapai 250 per hari, saat ini rata-rata 100-150 kasus per hari,” papar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Balai Kota Semarang, Jumat (22/1/2021).

Dipaparkan, dari laporan dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, angka Covid-19 di Kota Semarang memang sudah menurun, baik dilihat dari jumlah kasus baru maupun akumulasi kasus.

Kasus Covid-19 juga mengalami penurunan dari sebelumnya di atas 1.000 kasus, saat ini berada di angka 800 kasus. Secara persentase, angka tersebut disumbang warga Semarang sebesar 63 persen dan warga luar kota sebesar 37 persen.

Melihat angka tersebut, saat ini pihaknya tengah menyusun penyesuaian terkait PPKM di Kota Semarang. Terlebih kebijakan tersebut oleh pemerintah pusat diperpanjang hingga 8 Februari 2021 mendatang.

“Pada prinsipnya, Pemkot Semarang siap mengikuti kebijakan Pemerintah Pusat terkait penerapan PPKM dalam upaya menekan penyebaran kasus Covid-19, termasuk di Kota Semarang. Namun, ada beberapa hal yang akan kita sesuaikan,” terangnya.

Hal ini berkaitan dengan berbagai aspek yang ada di lingkungan masyarakat. Terutama dari sektor ekonomi hingga sosial budaya, yang paling terimbas saat diterapkan PPKM.

Terkait Perwal Nomor 1 Tahun 2021 tentang PPKM, Hendi, panggilan akrabnya, menegaskan ada sejumlah poin yang akan diubah sesuai kondisi terkini dan kebutuhan masyarakat.

“Kita masih ada waktu dua hari, sebelum pelaksanaan PPKM tahap I selesai. Kita akan lakukan evaluasi penerapan PPKM terlebih dahulu, hasilnya seperti apa, nanti akan kita lakukan perubahan sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat Kota Semarang,” tegasnya.

Terpisah, salah seorang pedagang kaki lima (PKL), Nuryoso, berharap ada perubahan terkait PPKM di Kota Semarang, terutama terkait jam operasional usaha.

“Seperti saya ini, pedagang nasi kucing, angkringan. Buka dasaran baru pukul 16.00 WIB, tapi sudah harus tutup pukul 21.00 WIB. Jika dibandingkan dengan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) lalu, PPKM ini memberatkan, sebab saat PKM, pedagang masih bisa berjualan hingga pukul 23.00 WIB,” ungkapnya.

Dirinya menilai ada perbedaan pemberlakuan yang tidak adil untuk para pedagang PKL, terutama yang berjualan di malam hari. “Kenapa saat berdagang siang hari tidak dibatasi, sementara saat malam dibatasi? Apa kalau siang tidak ada Covid? Covid hanya keluar saat malam? Harusnya tidak seperti itu,” terangnya.

Warga Tembalang Semarang tersebut berharap pada PPKM tahap II mendatang ada perubahan. “Ya, paling tidak seperti PKM lalu, tetap dibatasi tapi jam operasional pedagang bisa sampai pukul 23.00 WIB. Kalau tidak boleh nongkrong atau kumpul-kumpul, ya tidak apa-apa, tapi setidaknya bisa lebih lama buka, sehingga bisa tetap melayani untuk dibawa pulang,” tandasnya.

Lihat juga...