2.816 Pedagang Pasar Jaya Sudah Divaksin

JAKARTA  – Direktur Utama PD Pasar Jaya, Arief Nasrudin, mengatakan, sebanyak 2.816 pedagang Pasar Jaya sudah divaksin untuk mencegah penyebaran COVID-19, sehingga diharapkan perekonomian mulai menggeliat kembali melalui transaksi perdagangan yang sejalan dengan penerapan protokol kesehatan.

“Di hari pertama vaksin kita menembus 1.400 pedagang yang divaksin dan hari kedua juga tumbuh 1.400. Jadi total sudah 2.816 pedagang. Di luar dugaan, pada H-1 vaksinasi, antusiasme pedagang luar biasa untuk mengikuti program vaksinasi. Untuk itu kami tetap berupaya agar pelaksanaannya tetap tertib,” kata Arief dalam seminar bertajuk Transaksi Jalan, Prokes Tetap Diutamakan, Jumat.

Arief menyampaikan PD Pasar Jaya mencanangkan sebanyak 30.000 pedagang mendapatkan vaksinasi COVID-19 pada tahap awal. Selain itu ada petugas kebersihan, petugas keamanan, pengelola pasar, dan petugas parkir yang akan ikut divaksin.

Sebelumnya, kata dia, bahkan ditargetkan 53.000 pedagang ikut vaksinasi, namun setelah dilakukan sensus, banyak pedagang yang kiosnya sudah tutup sehingga angka terakhir 30.000 orang.

Di Pasar Tanah Abang sendiri, ia menyebut para pedagang dan pengunjung mulai terbiasa dengan protokol kesehatan yang ketat.

Selain itu, para pedagang juga mulai menangkap peluang dengan memanfaatkan perdagangan secara daring.

“Pengunjung mulai terbiasa dengan jual-beli online. Jadi sudah ada shifting juga di masa pandemi ini, di mana pedagang-pedagang kami juga sudah mulai pintar membaca peluang, sehingga kemudian juga kami dari Pasar Jaya menyiapkan juga sebuah website online dari awal pandemi terjadi. Jadi, animonya tumbuh juga dari transaksi online,” ujar Arief.

Nantinya, lanjut Arief, vaksinasi akan menyebar ke pasar-pasar besar dan kecil di Indonesia, sehingga, jika cakupannya sudah meluas, diharapkan perekonomian mulai kembali menggeliat dan pulih dari dampak pandemi COVID-19.

Sementara itu Dokter dan Tim Penangan COVID-19, Falla Adinda, memaparkan Indonesia memiliki prioritas dalam memberikan vaksinasi kepada masyarakat, yang juga dilakukan berbagai negara.

Pada tahap kedua vaksinasi, Pemerintah Indonesia memilih pedagang pasar karena dianggap yang paling berisiko.

“Di negara lain ada yang memprioritaskan eksekutif muda dulu, ada yang lansia dulu. Tapi, Indonesia memilih pedagang pasar dan saya rasa itu langkah yang tepat,” pungkas Falla. (Ant)

Lihat juga...