Akademisi: Budaya Perlu Diperkenalkan kepada Anak Sejak Dini

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Dr. Retno Winarni, M.Hum di Jember Minggu (21/2/2021) menyatakan peran aktif semua kalangan sangat penting dalam membetuk pola pikir anak untuk mencintai budayanya sendiri. Foto: Iwan Feri Yanto

JEMBER — Anak merupakan aset besar untuk meneruskan nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang sejak dahulu. Menanamkan nilai-nilai perlu dilakukan sejak dini. Karena di masa modern menjadi tantangan untuk generasi muda tetap melestarikan dan mencintai budayanya .

“Melestarikan budaya agar tetap bertahan dan berkembang di zaman moderen memerlukan peran aktif dari generasi muda. Kalau anak tidak dibimbing dan memperkenalkan pada budaya yang ada, kedepannya tidak akan ada yang dapat melestarikannya,” ujar Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Dr. Retno Winarni, M.Hum kepada Cendana News, di Jember, Minggu (21/2/2022).

Budaya yang ada saat ini merupakan cara generasi sebelumnya mengenalkan dan mengajarkan kepada generasi muda.

“Budaya merupakan ciri khas dan kekayaan daerah, maka dari itu nilai budaya yang ada agar tetap bisa bertahan kedepannya. Perlu memperkenalkan kepada generasi muda sejak dini,” imbuhnya.

Pola hidup generasi muda pada era moderen menimbulkan pergeseran. Minat dan kesukaan yang dilakukan cenderung untuk memilih kebudayaan baru yang dinilai lebih praktis dilakukan dari pada budaya yang sudah berkembang sejak dahulu.

“Tidak bisa dipungkiri, saat ini anak-anak muda lebih memilih untuk melakukan kebiasaan yang sifatnya praktis, seperti lebih memilih untuk berlama-lama dengan telpon pintarnya, sedangkan untuk melakukan aktivitas kebudayaannya, cenderung tidak begitu diminati,” tuturnya.

Memperkenalkan sejak dini, berupaya untuk menumbuhkan kecintaannya kepada nilai-nilai budaya lokal.

“Ruangan Untukmu Si Kecil (USK) memberikan fasilitas untuk memperkenalkan anak-anak kepada nilai-nilai kebudayaan yang ada. Memperkenalkan kepada anak usia dini perlu dikemas dengan yang semenarik mungkin, supaya seorang anak lebih tertarik,” tuturnya.

Ia menambahkan, kebudayaan memiliki beragam macam jenis maupun bentuknya dan anak-anak perlu dikenalkan pada budaya lokal yang ada, seperti belajar menari, pelestarian lingkungan, melestarikan permainan tradisional seperti permainan gobak sodor, enklek, enggrang, lompat tali dan masih banyak permainan tradisional lainnya.

Terpisah, salah satu warga sekitar Safitri mengatakan, zaman dulu aktivitas permainan yang dilakukan yakni seperti bermain gobak sodor, lompat tali, engklek. Tapi saat ini, anak-anak lebih asik dengan permainan di teleponnya.

“Bisa dikatakan saat ini anak-anak jarang yang terlihat untuk melakukan permainan-pemainan zaman dulu. Padahal menurut saya permainan zaman dulu tidak kalah menarik, dan lebih banyak teman,” tegasnya.

Lihat juga...