Anak Ketergantungan ‘Gadget’ karena PJJ

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena desakan pandemi Covid-19, terus menuai protes karena berdampak buruk bagi peserta didik. Karena fase anak yang seharusnya belajar melihat buku, dipaksa menggunakan gadget.

“Ini harus dicarikan solusi, kasihan orang tua dan peserta didik sendiri. Dampak dari pembelajaran online, anak menjadi gemar main game dan buka youtube di luar kontrol orang tua,”ungkap Guntur Kurniawan, pegiat Sanggar Kabasa, yang fokus mendidik anak jalanan, yatim dan duafa, kepada Cendana News, Kamis (4/2/2021).

Dikatakan, anak saat ini tidak hanya terbatas pada giat sosialnya dengan teman-temannya. Anak juga kehilangan motivasi atau kehilangan semangat belajar.

Iwan, Pembina Kabasa, foto bersama dengan anak didik Sanggar, dari anak jalanan, yatim dan duafa, Kamis (4/2/2021). –Foto: M Amin

Menurutnya, pendidikan online memberi dampak buruk karena anak mengenal teknologi, namun tidak dibarengi dengan SDM orang tua yang bisa terus mengontrol dan mengarahkan anaknya di rumah.

“Ya, kalau SDM orang tua tinggi dari segi pendidikannya, bagus bisa terkontrol anaknya. Tapi jika sebaliknya, maka yang terjadi menambah beban baru, satu sisi sulit uang, anak merengek minta kuota untuk main game dan nonton youtube,” jelasnya.

Diakuinya, beberapa waktu lalu Sanggar Kabasa kedatangan tamu empat orang wali murid yang mengeluhkan soal kuota dan perilaku anaknya.

“Ini perlu sharing antara praktisi pendidikan dan pemerintah hasil dampak dari belajar daring. Tuntutan gadget, anak yang fase belajar membaca harus melihat buku kembali dituntut teknologi, umur mereka di bawah 13 tahun,” tandasnya miris melihat anak nangis merengek meminta kuota internet.

Lebih lanjut dikatakan, boleh ada niat relawan membantu memudahkan semua, seperti membantu kuota atau lainnya. Tapi, anak itu belum cukup umur untuk memegang gadget. Karena pola pikir, atau pun lainnya dan orang tua tidak memiliki kepedulian.

Dalam kesempatan itu, Iwan, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa saat ini Sanggar Kabasa dengan tetap mengikuti protokol kesehatan tetap membina anak dengan tatap muka, dimulai usai ashar dan setelah magrib.

Kabasa saat ini memiliki 120 anak didik yang fokus pada pendidikan, untuk memutus mata rantai anak jalanan melalui latihan skill service hp dan ac. Taregtnya sama, membantu pemerintah mengurangi anak jalan di Kota bekasi.

Di samping itu, mereka juga mengikuti pendidikan bahasa ingris, akidah, dan Alquran. Sampai saat ini, berjalan maksimal dan belum ada dampak Covid-19 pada peserta didiknya.

Lihat juga...