Angka Anemia pada Remaja Masih Tinggi

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Penyakit anemia pada remaja di Indonesia masih tinggi berada di angka 32 persen, solusi pencegahannya dengan pemberian tablet tambah darah (TTD) seminggu sekali.

Kepala Seksi Gizi, Promkes dan PPSM Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Reita Kartika mengatakan, permasalahan kesehatan dan gizi remaja akan mempengaruhi kualitas hidup pada usia produktif dan usia lanjut.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar ( Rikesdas) mencatat prevalensi anemia pada remaja sebesar 32 persen. “Ini artinya adalah 3-4 orang 10 remaja itu menderita anemia yang disebabkan asupan gizi kurang optimal,” ujar Reita, pada webinar Hari Gizi Nasional bertajuk remaja sehat bebas anemia di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Jumat (19/2/2021).

Kepala Seksi Gizi Promkes dan PPSM Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Rieta Kartika dan peserta diskusi pada webinar Hari Gizi Nasional bertajuk remaja sehat bebas anemia di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Jumat (19/2/2021). -foto: Sri Sugiarti

Menurutnya, upaya pencegahan anemia pada remaja itu dapat dilakukan melalui suplementasi tablet tambah darah (TTD).

Dalam kondisi di tengah pandemi Covid-19, maka berbagai pelayanan kesehatan termasuk pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri ini tetap harus dilakukan dengan upaya modifikasi.

“Umumnya tablet tambah darah ini didistribusikan melalui sekolah. Tapi dengan belajar di rumah selama pandemi Covid-19, maka  pemberian tablet ini dapat dimodifikasi sesuai dengan kebijakan daerah masing-masing,” jelasnya.

Rieta menegaskan, bahwa persoalan gizi bagi remaja tidak dapat diselesaikan oleh dinas kesehatan saja. Namun perlu dukungan dan kontribusi lintas program, dan kemitraan.

Apalagi perbaikan gizi masyarakat yang difokuskan pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) anak dan usia remaja menjadi komponen utama pembangunan kesehatan berkelanjutan, sebagai investasi membangun sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan berdaya saing.

Sehingga menurutnya, menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen dari semua lembaga sangat penting. Untuk mencapai tujuan membangun gizi menuju bangsa yang sehat berprestasi.

“Melalui edukasi gizi seimbang dan pemberian tablet tambah darah diharapkan dapat mengurangi prevelansi anenia pada remaja putri, khususnya di DKI Jakarta,” ujar Rieta.

Ahli gizi, dr. Maria Poppy Herlianty menambahkan, anemia adalah suatu kondisi tubuh dimana kita mengalami kekurangan hemoglobin sehingga tubuh tidak cukup  mendapatkan oksigen.

“Pada pria disebut anemia, kalau kadar hemoglibin lebih kecil dari 13 gram perdesi liter. Kalau perempuan lebih kecil dari 12 gram per desi liter,” ujarnya.

Ahli gizi, dr. Maria Poppy Herlianty, pada webinar Hari Gizi Nasional bertajuk remaja sehat bebas anemia di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Jumat (19/2/2021). -Foto: Sri Sugiarti

Standar WHO, angka prevelensi anemia normal itu adalah 20 persen. Namun Rikesda tercatat angka prevelensi anemia pada remaja sebesar 32 persen.

“Jadi, Indonesia melebihi batas gizi yang dianggap normal oleh WHO. Indonesia mencatat 32 persen. Ini angka nasional, maka kurang lebih 7,5 juta remaja Indonesia itu anemia. Dan, itu bukan angka yang kecil,” tukasnya.

Sehingga menurutnya, pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri menjadi hal yang sangat penting dilakukan. Apalagi tablet ini merupakan salah satu intervensi spesifik yang diberikan pemerintah.

Bahkan berbagai departemen kementerian telah sepakat untuk gerakan minum tablet tambah darah bagi remaja putri seminggu sekali.

“Saat ini, hanya 1,4 persen dari 100 remaja putri yang patuh minum tablet ini per minggu. Diharapkan kedepan angkanya akan meningkat,” ujarnya.

Karena menurutnya, remaja akan sangat menentukan, apakah Indonesia akan naik kelas di tatanan dunia nantinya.

“Itu sebabnya negara-negara yang banyak memiliki polusi usia muda akan menjadi negara yang besar, jika remajanya sehat dan berprestasi,” pungkasnya.

Lihat juga...