Aspek Arkeologi Cinta Inu dan Galuh

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Kisah percintaan tidak bisa tidak, hampir selalu hadir dalam berbagai cerita rakyat nusantara. Sebagian hanya merupakan cerita dari mulut ke mulut. Tapi ada juga yang teridentifikasi dalam bukti arkeologi. Salah satunya adalah perjuangan cinta Inu Kertapati dengan Galuh Candra Kirana.

Peneliti Utama Puslit Arkenas Dr. Titi Surti Nastiti menyebutkan, cerita Raden Panji atau Kundawaning Pati atau Inu Kertapati dengan Putri Galuh Candra Kirana atau Dewi Sekartaji sangat dikenal dalam peradaban Indonesia.

“Bahkan tidak hanya di Indonesia, yang setiap daerah memiliki versi tersendiri, kisah Raden Panji atau orang mungkin lebih mengenal Inu Kertapati juga ditemukan di Thailand, Vietnam dan Myanmar. Sayangnya, romansa ini sering kali terkalahkan oleh cerita dari negara lain saat ini,” kata Titi dalam talkshow online Puslit Arkenas, Minggu (21/2/2021).

Tapi, dari berbagai versi ini, semuanya memiliki kesamaan. Yaitu menceritakan bagaimana perjuangan Raden Panji dengan Putri Galuh dalam memperjuangkan cintanya.

“Kalau dari segi arkeologi, cerita Raden Panji ini diperkirakan terjadi pada abad 12 dan ditemukan pada relief Panataran dan Kendalisodo,” ucapnya seraya menunjukkan berbagai rekaman relief yang menunjukkan perjalanan Raden Panji dan Putri Galuh.

Secara umum, cerita ini berkisah tentang Raden Panji yang merupakan putera mahkota Kerajaan Jenggala dan Putri Galuh Candra Kirana yang memiliki arti “putri (yang cantik bagai) sinar bulan” ialah sekar kedhaton (putri kerajaan) Daha atau Kediri.

Kedua putra-putri raja ini sudah diperkenalkan satu sama lain oleh orang tua mereka sejak kecil. Namun, dalam berbagai varian ceritanya, perjodohan itu menghadapi berbagai tantangan.

Tema cerita, lanjutnya, berpusat pada nilai kepahlawanan, keberanian, keteguhan, dan kasih sayang. Tidak hanya antar manusia tetapi juga kasih sayang kepada Tuhan.

“Dalam bukti relief, kita hanya bisa melihat rangkaian gambar. Lalu akan kita rangkai dengan cerita lokal yang berkembang,” ucapnya.

Identifikasi romansa dalam relief ini terlihat dari tampilan laki-laki dan perempuan yang saling bersender atau perempuan dipangku oleh pria atau duduk bersimpuh pada sosok yang diyakini orang tua atau penguasa.

“Raden Panji ini satu dari sekian banyak bukti fisik Arkeologi. Yang lainnya, seperti Kresnayana yang ditampilkan di Candi Prambanan dan Candi Panataran. Atau Sri Tanjung yang ditampilkan pada relief di Jabung, Panataran, Surawana dan Wringin Lawang,” pungkasnya.

Lihat juga...