Atasi Kurang Zat Gizi Mikro Perlu Intervensi Pemerintah

JAKARTA — Masalah zat gizi mikro diakui memang masih terjadi di Indonesia. Karena itu pemerintah masih terus melakukan intervensi dalam rangka menurunkan angka kekurangan zat gizi mikro ini.

Peneliti Madya Lab Gizi Terpadu Balitbangkes Kementerian Kesehatan DR Fitrah Ernawati, MSc, menyatakan berdasarkan survei diet masyarakat Indonesia pada tahun 2014, ditemukan bahwa 56,26 persen konsumsi masyarakat masih pada produk serealia. Yang disusul dengan sayur 7,27 persen, ikan 5,89 persen, kacang-kacangan 4,19 persen serta lemak dan minyak 3,94 persen.

Sementara, buah hanya mengambil porsi 3,43 persen, telur 2,2 persen serta daging merah dan unggas 1,98 persen.

“Dari data tersebut terlihat bahwa pemenuhan zat gizi mikro memang masih perlu dilakukan pemerintah dalam upaya mencegah kurangnya zat gizi mikro di masyarakat, yaitu Iodium, Vitamin A, zat besi dan zinc,” kata Fitrah dalam seminar online stunting HIMNI, Jumat malam (19/2/2021).

Peneliti Madya Lab Gizi Terpadu Balitbangkes Kementerian Kesehatan DR Fitrah Ernawati, MSc, saat seminar online stunting HIMNI, Jumat (19/2/2021). -Foto Ranny Supusepa

Adapun upaya intervensi tersebut adalah fortifikasi garam untuk memenuhi Iodium, pemberian vitamin A dua kali setahun bagi balita, asam folat bagi ibu hamil dan penambahan zinc bagi anak yang menderita diare.

“Kekurangan zat gizi mikro ini hisa menyebabkan ketidakseimbangan perkembangan fisik dan mental, penurunan imunitas, meningkatnya morbiditas dan dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan stunting,” ucapnya.

Ia menyebutkan kekurangan zat gizi mikro ini paling rawan jika dialami oleh ibu hamil, yang akan berkaitan dengan bayi yang akan dilahirkan dan balita.

“Berdasarkan data Riskesdas prevalensi anemia ibu hamil pada tahun 2007 adalah 24,5 persen, pada 2013 menjadi 37,1 persen dan 2018 naik menjadi 48,9 persen,” paparnya.

Anemia pada ibu hamil akan memperbesar potensi kelahiran prematur, anak lahir dengan berat badan kurang dan depresi postpartum. Bahkan dalam beberapa studi juga menunjukkan anemia pada ibu hamil, juga berpotensi kematian bayi sesaat setelah kelahiran.

Dari data yang sama, kekurangan zat mikro juga dialami balita, pada tahun 2007 adalah 27,7 persen, 2013 adalah 28,1 persen dan 2018 sebesar 38,5 persen.

“Hal ini tentunya membutuhkan kolaborasi bersama, sehingga bisa ditangani dengan baik. Karena kekurangan zat gizi mikro dalam waktu lama, selain mempengaruhi pertumbuhan juga mampu menimbulkan infeksi berulang dan peningkatan morbiditas,” tuturnya.

Sebagai contoh, keberadaan Zinc dalam tubuh manusia adalah sebagai konfaktor 200 enzim, metabolisme, sintesa dan degradasi karbohidrat, lipid, lemak dan asam nukleat, metabolisme jaringan ikat dan penyembuhan luka, imunitas serta metabolisme tulang.

“Jika balita kekurangan zinc, dampaknya adalah imunitas menurun, rentan infeksi diare, pneumonia, gangguan pada pertumbuhan, kognitif dan motorik. Dan pada jangka panjang, akan terjadi peningkatan morbiditas, hambatan pertumbuhan serta hambatan tumbuh kembang,” pungkasnya.

Lihat juga...