Banjir Sebabkan Petambak Udang di Lamsel Merugi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah petambak udang vaname dan udang windu di dekat aliran sungai Way Sekampung, mengalami kerugian. Pasalnya, dampak musim penghujan berimbas banjir dan aliran sungai limpas ke area pertambakan melalui kanal.

Sukirman, pemilik tambak udang vaname menyebut normalnya panen dilakukan setelah empat bulan. Namun, saat usia tiga bulan tambak miliknya limpas oleh banjir. Kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah.

Ketinggian permukaan tambak dengan kanal menjadi penyebab limpasan air banjir. Proses pengurasan tambak sulit dilakukan imbas kanal lebih tinggi dari permukaan tambak. Keterlambatan panen, menurutnya dampak salah prediksi. Sebab, musim penghujan di wilayah tersebut tidak terlalu deras, namun air banjir kiriman berasal dari Lampung Timur dan Pesawaran.

Samsul Anwar, Kepala Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, saat ditemui, Minggu (28/2/2021). -Foto: Henk Widi

Limpasan air banjir jelang panen udang, sebut Sukirman, menjadi momok warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi. Sebab, biaya operasional untuk penyiapan bibit, pemberian pakan, perawatan tidak tertutupi hasil panen.

Menebar sekitar 15.000 benih udang atau benur, normalnya ia bisa memanen sekitar 3 ton. Namun imbas limpasan banjir, ia melakukan panen dini sebelum waktunya.

“Kami telah mengantisipasi dengan peninggian talud memakai karung bekas pakan udang berisi tanah dan pasir, namun karena debit air yang melimpah, tidak tertampung kanal masuk ke tambak, sebagian petambak memilih melakukan panen parsial,” terang Sukirman, saat ditemui Cendana News di tambaknya, Minggu (28/2/2021).

Proses panen parsial atau bertahap, sebut Sukirman dilakukan memakai jaring. Pada kondisi normal, ia menerapkan sistem pengurasan memakai mesin pompa. Sistem tersebut sulit dilakukan, dampak ketinggian air kanal nyaris sama dengan tambak.

Puncak limpasan air banjir Way Sekampung menjadi siklus lima tahunan setiap Januari hingga Februari. Meski tetap bisa panen, ia mengaku merugi.

Petambak lain  di Dusun Bunut Selatan, Sunarto, bilang lokasi tambak di dekat kanal. Klep penutup tidak mampu menampung air limpasan. Pada kondisi normal, klep akan menutup saat sungai Way Sekampung meluap. Namun ketinggian air yang sama mengakibatkan fungsi klep tidak maksimal. Ia memilih membuat jaring pengaman agar udang tidak keluar tambak.

“Jaring dibuat mengantisipasi udang tidak keluar tambak, mengurangi kerugian, namun tetap saja udang lolos,” cetusnya.

Mendapat hasil panen sekitar lima kuintal udang vaname, saat limpas banjir ia hanya mendapat dua kuintal. Kerugian ratusan ribu rupiah dialaminya imbas panen parsial.

Proses panen dengan jaring dilakukan untuk menyelamatkan udang usia tiga bulan. Sebagian udang sulit ditangkap, karena volume air tambak bertambah. Ia berharap, banjir segera surut agar ia bisa melakukan pemanenan total.

Bejo, penampung udang di Bandar Agung mengaku udang size 90 ekor per kilogram hingga  size 100 ekor per kilogram mulai dipanen. Normalnya, udang vaname dipanen saat size 50 ekor per kilogram dipanen. Namun imbas limpasan ia memilih menampung udang ukuran kecil. Pangsa pasar udang ukuran kecil kerap dijual ke pasar tradisional seharga Rp50.000 hingga Rp70.000 per kilogram.

Normalnya, udang vaname dengan sistem tambak tradisional dijual Rp90.000 hingga Rp110.000 per kilogram. Namun dampak banjir saat penghujan, petambak memilih melakukan proses panen lebih awal. Meski ukuran kecil, namun petambak menjual kepada pengepul menghindari kerugian lebih besar. Musim penghujan masih akan berlangsung hingga awal Maret.

“Risiko yang dihadapi petambak oleh limpasan, karena lokasi tambak berada dekat dengan sungai Way Sekampung,” ujar Bejo.

Selain berimbas bagi tambak udang, area perkampungan warga rentan banjir. Lokasi tersebut berada di luar tanggul penangkis, meliputi wilayah Dusun Umbul Besar, Kuala Jaya, Bunut Utara dan Bunut Selatan, demikian diakui Samsul Anwar, kepala Desa Bandar Agung.

Menurutnya, petambak telah mengantisipasi dengan melakukan penjadwalan budi daya. Penjadwalan dilakukan menghindari masa panen berbarengan musim banjir.

Warga di dekat sungai Way Sekampung, menurutnya telah terbiasa dengan siklus tahunan banjir. Meski menjadi penyebab kerugian, banjir juga menjadi berkah. Sebab, sebagian warga bisa memanen kerang cobo-cobo, mendapat ikan hasil tangkapan. Limpasan berimbas kanal membawa ikan dimanfaatkan warga dengan menjala. Ikan digunakan sebagai bahan pembuatan ikan asin dan terasi.

Lihat juga...