Bank Sampah Flores Manfaatkan Barang Bekas untuk Pot

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Banyaknya barang bekas terutama bahan yang tidak bisa terurai dapat menyebabkan lingkungan tercemar bila dibuang sembarangan apalagi ke laut. Untuk meminimalisirnya, Bank Sampah Flores, melakukan pengumpulan dan membuatnya menjadi beragam produk daur ulang.

“Kami mengumpulkan bahan-bahan bekas dan membuatnya menjadi aneka produk termasuk menjadikannya pot untuk tanaman bunga dan tanaman obat-obatan,” kata Direktur Bank Sampah Flores, Wenfrida Efodia Susilowati saat ditemui di rumahnya di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Sikka, Rabu (17/2/2021).

Wenefrida Efodia Susilowati saat ditemui di rumahnya, Rabu (17/2/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Susi sapaannya mengatakan, dirinya membeli ban-ban mobil bekas dari tempat tambal ban yang ada di Kota Maumere dan menjadikannya sebagai pot untuk tanaman bunga.

Dia menambahkan, terkadang ban-ban bekas juga ditemukan terbawa air di pesisir pantai akibat dibuang oleh warga di saluran air saat musim hujan dan terbawa banjir.

“Setelah dikumpulkan, kami memotongnya dan mengolahnya menjadi aneka bentuk pot untuk ditanami bunga dan tanaman obat-obatan. Kadang kami juga menjualnya bila ada yang ingin membelinya,” ujarnya.

Susi mengakui menggunakan juga berbagai botol plastik bekas untuk diolah menjadi aneka produk seperti tas, karpet, kursi serta bisa juga dijadikan wadah untuk tanam bunga.

Ia pun menggunakan sebuah sampan bekas pakai yang sudah rusak di pekarangan rumahnya yang ditimbuni tanah lalu menanamnya dengan tanaman obat-obatan seperti jahe dan kunyit.

“Saya juga menggunakan batok kelapa yang banyak terdapat di tempat saya karena ada beberapa pohon kelapa. Setelah isinya dimakan, batok kelapa saya gunakan untuk ditanami bunga,” sebutnya.

Susi mengakui, masih banyak warga yang membuang botol-botol terutama botol plastik bekas air mineral serta berbagai perlengkapan dapur berbahan aluminium seperti wajan di saluran air.

Ia mengatakan, pihaknya tetap rutin mengajak para relawan dan anak-anak sekolah usia sekolah dasar (SD) untuk memungut sampah-sampah plastik di pantai-pantai yang ada di Kabupaten Sikka.

“Biasanya kami adakan aksi pungut sampah seminggu sekali tetapi akibat adanya pandemi corona, kegiatan mengumpulkan anak-anak terpaksa kami tiadakan dahulu,” ucapnya.

Pelaku wisata, Yasinta Nenti Odang mengakui, permasalahan sampah memang menjadi persoalan utama yang harus dibenahi di berbagai destinasi wisata yang ada di Pulau Flores.

Nenti menyebutkan, wisatawan lokal masih belum terbiasa membuang sampah pada tempatnya termasuk sampah-sampah plastik yang masih dibuang dan diletakkan sembarangan usai berwisata.

“Perlu dibentuk kelompok untuk mengedukasi pengunjung dan membersihkan sampah di destinasi wisata.Kalau wisatawan asing hampir semua sudah sangat peduli dengan sampah,” ungkapnya.

Lihat juga...