Batasan Penggunaan Gawai Cegah Anak Kecanduan Saat PJJ

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Peran orangtua dalam memfasilitasi sarana belajar berbasis dalam jaringan (daring) mendukung kegiatan belajar di rumah. Namun sejumlah orangtua mengeluhkan pergeseran sistem belajar tatap muka ke sistem daring memunculkan kecanduan pada gawai. Porsi penggunaan gawai untuk belajar lebih sedikit dibanding aktivitas bermain game online, bermedia sosial.

Ardi Yanto, salah satu orangtua anak usia SD dan SMP negeri di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan menyebut tetap memberi fasilitas gawai. Namun ia menyebut membatasi penggunaan kuota internet dengan sistem tethering atau hotspot. Saat sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) anak akan mendapat tugas dengan aplikasi WhatsApp.

Pembatasan dilakukan juga dengan pemakaian gawai yang hanya boleh dipakai untuk belajar. Penggunaan telepon pintar terkoneksi dengan internet berimbas anak memilih bermain game online. Siasati anak kecanduan gawai ia kerap memberi sejumlah buku bacaan dan aktivitas di luar rumah. Kepastian anak belajar dengan gawai dilakukan dengan metode pengawasan rutin.

“Penggunaan gawai yang tidak dibatasi akan berimbas anak anak justru mengurangi aktivitas belajar dengan buku fisik, interaksi sosial dengan teman sebaya berkurang bahkan lebih bersifat individual karena lebih memilih asik dengan game online,” terang Ardi Yanto saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (18/2/2021).

Aktivitas kegiatan belajar dengan sistem PJJ ikut memberi dampak negatif bagi tumbuh kembang anak. Sebab anak yang biasa melakukan aktifitas fisik jalan kaki, olahraga, interaksi dengan teman sebaya berkurang. Interaksi dengan tenaga pendidik yang kerap dilakukan langsung berganti secara virtual. Pembelajaran daring lebih dari setahun anak cenderung bosan dan kehilangan semangat belajar.

Perubahan rutinitas anak berubah selama sistem PJJ. Anak yang diberi smartphone umumnya memilih tidur lebih larut karena asik bermain game. Tanpa harus datang ke sekolah berimbas anak malas bangun pagi karena sejumlah tugas diberikan secara online. Sebagai orangtua kebutuhan akan kuota internet berdampak pada peningkatan pengeluaran.

“Bagi orangtua yang berpengasilan terbatas pengeluaran pembelian kuota internet jadi beban,”sebutnya.

Nurkholis, guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hidayah, Desa Padan, Kecamatan Penengahan menyebut gawai jadi sarana belajar siswa. Sadar akan potensi kecanduan pada gawai, sekolah tidak mewajibkan siswa harus melakukan PJJ dengan gawai. Solusi penjadwalan siswa datang ke sekolah mendapat tugas, mengumpulkan tugas mengurangi penggunaan gawai.

Pemahaman kepada siswa diberikan melibatkan orangtua. Sebab orangtua sebut Nurkholis memiliki peran penting dalam komitmen membantu sistem PJJ.  Konsultasi orangtua dengan sekolah dilakukan untuk membatasi penggunaan gawai di rumah. Terlebih pemahaman kesehatan dengan pembatasan waktu melihat layar handphone (time screen) cukup penting.

“Guru juga mulai membatasi dengan tidak terlalu banyak memberi tugas kepada siswa secara daring,”sebutnya.

Kendala, keluhan dari siswa, orangtua selama PJJ diakui Lusia Yuli Hastiti. Guru di salah satu SMP Marga Sekampung, Lampung Timur itu menyebut sejumlah orangtua mengeluh anak kecanduan gawai. Beberapa anak yang meminta kuota internet kerap habis tidak untuk belajar melainkan untuk bermain game, media sosial.  Kuota internet bahkan dipakai untuk Youtube dan Tiktok.

“Banyak orangtua mengeluh nilai pelajaran justru anjlok dan permintaan uang membeli quota internet meningkat,” cetusnya.

Normalnya ia menyebut siswa sekolah mendapat kuota umum 10 GB dan kuota belajar 30 GB. Faktanya penggunaan kuota tidak hanya untuk belajar. Bantuan kuota dari Kemendikbud tersebut sebagian habis lebih cepat. Beberapa orangtua memilih memberikan kuota dengan hotspot. Terlebih sebagian aplikasi Zoom dan Google kerap tidak bisa diakses karena siswa tinggal di pedalaman. Namun untuk media sosial kuota masih bisa digunakan berimbas kecanduan gawai.

Lihat juga...