Berlayar Pakai Sampan Keliling Tanggul Pemecah Ombak, Upaya Tarik Wisatawan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Sepinya sektor pariwisata akibat dampak Covid-19 membuat beberapa destinasi wisata di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tutup akibat tidak ada kunjungan wisatawan.

Pelaku wisata di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Wenefrida Efodia Susilowati saat ditemui di tempat usahanya, Sabtu (20/2/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kita harus bekreasi mengingat sepinya pariwisata. Kami membuat paket minum teh rempah sekaligus bersampan mengitari pemecah gelombang,” kata Wenefrida Efodia Susilowati, pemilik Pantai Paris Home Stay, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT saat dihubungi Cendana News Minggu (21/2/2021).

Susi sapaannya mengatakan, banyak masyarakat di Kabupaten Sikka yang tertarik menikmati paket yang ditawarkan dengan harga Rp25 ribu per orang.

Disebutkannya, untuk teh rempah dipungut biaya Rp10 ribu sementara teh rempah dicampur madu dijual seharga Rp15 ribu dan biaya sampan Rp10 ribu per orang.

“Satu sampan hanya bisa dinaiki oleh satu orang dan bisa minum teh rempah di atas sampan sambil mengelilingi tanggul pemecah gelombang. Rupanya banyak yang tertarik menikmati paket wisata ini,” sebutnya.

Susi mengaku dampak Corona membuat tidak ada wisatawan asing yang menginap di home staynya dengan harga Rp250 ribu per hari termasuk mendapatkan makanan dan minuman.

Ini yang membuat dirinya terpaksa memutar otak untuk agar bisa mendapatkan dana, sebab praktis dalam sebulan hanya ada satu dia saja pengunjung lokal yang menginap di home stay miliknya.

“Memang selama beberapa bulan terakhir sudah ada yang menginap, tapi paling hanya satu dua orang saja. Itu juga tamu dari luar Kabupaten Sikka yang ada keperluan pekerjaan,” ucapnya.

Sementara itu, Elisia Digma Dari anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Sikka mengatakan kunjungan wisatawan mancanegara memang belum ada sejak April 2020.

Elis menyebutkan, untuk memacu kunjungan wisatawan lokal pihaknya melakukan perjalanan wisata dengan masyarakat lokal dalam jumlah terbatas.

“Kita mencoba untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Kabupaten Sikka dengan mengajak beberapa orang saja seraya menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” ungkapnya.

Elis menambahkan, banyak pelaku wisata yang beralih menekuni pekerjaan lain termasuk menjual aneka produk makanan dan minuman untuk bisa membiayai kehidupan rumah tangga.

Lihat juga...