Budi Daya Bonsai Tingkatkan Nilai Jual Tanaman

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ratusan bonsai dari berbagai jenis tanaman dipajang oleh penghobi dari tiga kabupaten/kota di Lampung. Sebagai seni mengerdilkan tanaman sesuai bentuk aslinya di alam, makin digemari kala pandemi Covid-19.

Made Sumiarse, sesepuh pembuat bonsai di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, menyebut bonsai menjadi kegemaran bernilai seni dan ekonomi.

“Jenis tanaman bonsai yang dibuat dari tanaman yang kerap tak dianggap memiliki nilai seni dan ekonomi,” kata Made, saat ditemui Cendana News, Senin (1/2/2021).

Made Sumiarse, salah satu sesepuh pembuatan bonsai di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, menampilkan karya keterbatasan berkarakter pada bonsai sentigi, Senin (1/2/2021). -Foto: Henk Widi

Ia mencontohkan, salah satu jenis tanaman itu meliputi putri malu (Mimosa pudica), kimeng (Ficus microcarpa) yang kerap tumbuh liar. Berkat ketelatenan memadukan estetika, tanaman itu menjadi karya seni yang indah untuk dipandang. Sebagian bonsai berasal dari pohon produktif.

Jenis pohon produktif yang bisa dibonsai meliputi asam jawa (Tamarindus indica), kelapa (Cocos nucifera) hingga alpukat (Persea americana). Namun, tren bonsai sentigi (Pemhis acidula) atau dikenal drini menjadi alternatif untuk dikerdilkan. Penambahan pot menjadikan bonsai semakin memiliki nilai seni saat dibentuk oleh para trainer, sebutan pembentuk bonsai. Berbagai tanaman potensial dibentuk menjadi bonsai unik bernilai jual tinggi.

“Prinsipnya, sejumlah tanaman bisa menjadi bonsai. Namun, dengan pilihan yang tepat, jenis tanaman langka dengan nilai estetika tinggi berpotensi menjadi peluang usaha bagi sebagian masyarakat yang memiliki waktu luang, sekaligus pengisi kegiatan saat masa pandemi Covid-19,” terang Made Sumiarse.

Made Sumiarse bilang, berbagai jenis tanaman itu saat berada di alam kerap tidak memiliki nilai ekonomis. Sejumlah tanaman sentigi sebagian tumbuh liar dan hasil pembongkaran tambak. Sebagian pebonsai yang tergabung di komunitas Nadi Bonsai mulai mengembangkan benih bonsai sistem semai. Cara tersebut menjadi peluang menghasilkan benih untuk pembuatan bonsai tanpa mengambil di alam. Jenis benih bonsai yang bisa dikembangkan, sebutnya, dari pohon kelapa, asam dan tanaman lain.

Made Sumiarse, bilang berbagai jenis bahan tanaman bonsai semula terlihat tidak memiliki nilai jual. Bibit sentigi yang disemai berukuran sekitar 15 cm, bisa dijual mulai Rp15.000. Setelah terbentuk dengan ukuran besar, bisa dijual ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

“Peluang membuat bonsai dari tanaman makin unik dengan bahan dari pohon buah jeruk, mangga, alpukat hingga arbei,” sebutnya.

Anggota komunitas Nadi Bonsai, sebutnya, dominan memelihara jenis sentigi, dan cemara. Kawasan pesisir pantai, menurutnya menjadikan jenis tanaman itu masih tersedia, meski telah langka di alam. Imbasnya, bagi pebonsai usaha menyediakan indukan untuk bibit menjadi sumber usaha. Bagi pelaku usaha pembuatan pot, hobi bonsai memberi sumber penghasilan warga kala pandemi. Pot semen dijual mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Made Sumiarse bilang, filosofi seni bonsai sangat tinggi. Sebagian tanaman yang aslinya berpotensi menjulang tinggi dibuat rendah. Tanaman tegak dibuat menjuntai ke bawah menjadi pengingat untuk manusia agar selalu rendah hati. Lokasi tumbuh pada lahan gersang, berbatu, pasir menjadi gambaran sulitnya untuk bertahan hidup.

“Gambaran bonsai jadi pengingat bagi manusia, sulitnya mendapat sumber ekonomi kala pandemi, namun tetap bertahan,” bebernya.

Cecep Sunandar, anggota Dagelan Bonsai Lampung Indonesia (DBLI) asal Lampung Timur, mengaku membuat bonsai adalah seni. Namun, ia menyebut pemanfaatan tanaman bisa menjadikan bonsai lebih bernilai jual tinggi. Jenis tanaman yang banyak dibonsai sekaligus mudah diperoleh jenis kelapa. Bagi anggota DBLI, peluang kelapa yang banyak bisa menjadi seni yang indah untuk ditampilkan.

“Anggota kami membuat bonsai sebagai hiburan, pengisi waktu luang, namun ternyata bisa dijual menghasilkan uang,”cetusnya.

Ikut dalam gelaran Ngopi Bareng dan Jemur Bonsai sejak Minggu 31 Januari hingga 3 Februari 2021, menjadi bagian proses edukasi. Ia bisa belajar cara membuat bonsai yang unik dan bertemu dengan penghobi bonsai.

Pecinta bonsai dari Bandar Lampung, Lampung Selatan, Lampung Timur, saling belajar. Menampilkan sejumlah bonsai menjadi cara untuk mengetahui kisaran harga bonsai.

Kadek Mila, pengunjung pada kegiatan ngopi bareng dan jemur bonsai menyebut, seni bonsai cukup indah. Sebagian tanaman bonsai dari berbagai jenis tanaman dibentuk dengan ketelatenan. Bagi anak muda, seni tersebut berpotensi untuk menjadi objek foto estetik. Sebab, menikmati bonsai bisa dilalukan dengan melihat langsung sekaligus mengabadikan dalam bentuk foto.

“Tanaman yang tumbuh liar di pohon jenis beringin, putri malu ternyata indah saat dibentuk bonsai, saya bisa selfie untuk galeri foto Instagram,” paparnya.

Sebagai bentuk dukungan bagi penghobi bonsai, I Ketut Sinde Atmita mendukung sepenuhnya kreativitas warganya. Total ada sekitar ratusan kepala keluarga di desanya memiliki bonsai. Namun, hanya 350 bonsai yang ditampilkan pada gelaran Ngopi Bareng dan Jemur Bonsai selama tiga hari di lapangan desa setempat. Potensi desa dari tanaman bonsai ikut mendongkrak ekonomi masyarakat.

Pada gelaran itu, bonsai sentigi bisa ditawarkan mulai Rp999.000 hingga puluhan jutaan rupiah. Sebagian bonsai telah jadi untuk ditampilkan. Namun dengan kreativitas, para trainer bentuk akan makin indah bernilai jual tinggi. Bonsai yang semula hanya digemari sebagian orang, makin dikenal sekaligus menjadi peluang usaha warga saat pandemi Covid-19.

Lihat juga...