Budidaya Kacang Tunggak Potensi Cadangan Pangan Petani Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Potensi lahan kering di Lampung Selatan masih jadi peluang untuk budidaya komoditas pertanian toleran kekurangan air. Salah satunya, kacang tunggak yang kerap disebut tolo.

Ardi Yanto, petani di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni menyebutkan, pilihan budidaya kacang tunggak atau Vigna unguiculata L. Walp jadi alternatif cadangan bahan pangan. Bagi petani perbukitan pematang malang, pematang macan kacang tersebut ditanam secara tumpang sari. Sistem penanaman tumpang sari atau polikultur dengan pisang, cabai menjadikannya lebih subur dan bisa diipanen usia 75 hari.

Proses budidaya cukup mudah. Menggunakan lahan yang telah dibersihkan biji kering ditanam dengan sistem tajuk atau tugal. Memiliki toleransi pada lahan gersang, saat musik penghujan tanaman kacang tunggak memiliki manfaat ganda. Pada masa tunas daun muda bisa dimanfaatkan sebagai bahan sayuran.

“Proses pemetikan daun muda kacang tunggak untuk bahan sayuran bisa menjadi sumber bahan alternatif sumber pangan termasuk buah yang masih muda, memasuki buah kering  bisa dipanen untuk pembuatan bubur, tempe dan kacang goreng,” terang Ardi Yanto saat ditemui Cendana News, Senin (1/2/2021)

Penyimpanan kacang tunggak usai panen dalam kondisi kering mampu bertahan hingga satu tahun dalam wadah tertutup. Cara tersebut dipergunakan untuk cadangan benih penanaman tahap berikutnya.

“Benih kacang tunggak kerap sulit diperoleh sehingga perlu penyiapan bibit secara mandiri,” bebernya.

Petani penanam kacang tunggak lainnya, Pariem,memilih membudidayakan komoditas pertanian itu pada lahan sawah. Tumpang sari dilakukan pada galengan atau pembatas lahan sawah, sebagian ditanam pada tegalan. Lahan yang jauh dari irigasi sebutnya bukan jadi kendala.

Sebagian warga yang membeli kacang tunggak dipergunakan untuk pembuatan peyek. Harga perkilogram di tingkat petani mencapai Rp15.000 perkilogram.

Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan, Bibit Purwanto saat ditemui Cendana News, Senin (1/2/2020). Foto: Henk Widi

Sanem, petani di Desa Gandri menyebut menanam kacang tunggak pada lahan berpasir.  Menggunakan lahan seluas seperempat hektare ia menyebut bisa mendapat 100 kilogram kacang tunggak kering dan 75 kilogram kacang hijau. Pemanfaatan dilakukan olehnya untuk memaksimalkan hasil.

“Hasilnya lumayan daripada lahan tidak dimanfaatkan karena kurang irigasi namun tetap produktif,” cetusnya.

Pemanfaatan lahan kering jadi potensi produksi komoditas pertanian. Bibit Purwanto,Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura menyebut petani budidaya kacang tunggak masih terbatas.

Kacang tunggak sebut Bibit Purwanto bisa menjadi bahan pangan cadangan. Nilai nutrisi pada memiliki protein nabati yang tinggi. Ia mendorong petani agar bisa memanfaatkan keanekaragaman jenis komoditas pertanian. Semakin banyak lahan kosong tidak produktif bisa ditanami kacang tunggak yang toleran terhadap kondisi kurang air dengan hasil maksimal.

Lihat juga...