Cegah Banjir, Pemda Sikka Diharap Tata Daerah Hulu

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Banjir yang melanda Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tiap tahun terus mengalami peningkatan akibat dari rusaknya daerah tangkapan air di wilayah hulu. Pemerintah daerah diharap melakukan penataan daerah hulu.

Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) Kabupaten Sikka meminta agar pemerintah bisa melakukan pengecekan wilayah hulu yang selama ini menjadi langganan banjir dan banjir bandang.

“Harus dicek penyebab banjir di Kota Maumere terjadi akibat limpahan air dari wilayah yang lebih tinggi atau perbukitan,” harap Sekretaris FPPB Sikka, Yuven Wangge saat ditemui di Kantor Wahana Tani Mandiri, Kelurahan Beru, Kota Maumere, Kamis (4/2/2021).

Yuven menegaskan, selain semakin padatnya permukiman warga di wilayah perbukitan yang berada di wilayah selatan Kota Maumere, saluran drainase dari wilayah hulu juga perlu dibenahi.

Sekretaris FPPB Sikka, Yuven Wangge saat ditemui di kantor Wahana Tani Mandiri (WTM), Kamis (4/2/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dia menambahkan, perlu membuat jebakan air di daerah hulu agar saat banjir air dari wilayah yang lebih tinggi tidak banyak mengalir ke Kota Maumere yang berada di dataran rendah di dekat pantai.

“Bisa dibangun bendungan kering atau dry dam seperti yang pernah dibangun di Kelurahan Nangalimang sehingga debit air yang mengalir ke Kota Maumere menurun drastis,” ucapnya.

Selain itu, tambah Yuven, wilayah yang terjadi banjir bandang, Minggu (17/1/2021) seperti di Kecamatan Waigete, Magepanda, Mego dan Tanawawo perlu dilakukan pengecekan di daerah hulunya.

Ia menyarankan apabila wilayah hutan sebagai daerah tangkapan air di wilayah hulu perlu dilakukan penghijauan apabila kondisinya gundul akibat penebangan pohon dan pembukaan lahan untuk kebun.

“Harus dilakukan penghijauan di daerah hulu sebagai salah satu solusi untuk mencegah terjadinya banjir bandang.Perlu juga membuat jebakan-jebakan air agar air bisa meresap ke dalam tanah,” harapnya.

Ketua FPPB Sikka, Carolus Winfridus Keupung menambahkan, perlu ada rekayasa dengan membuat saluran air yang pembuangannya ke kali mati.

Win sapaannya menyebutkan, saat hujan lebat beberapa kali mati yang berada di Kota Maumere terlihat tidak dipenuhi air hujan sehingga harus dibuat saluran pembuangan menuju kali mati.

“Rekayasa saluran air agar bisa dibuang di kali mati juga penting untuk mencegah banjir. Tapi yang paling utama dilakukan tetap melakukan penghijauan di daerah hulu agar air bisa meresap ke dalam tanah,” pesannya.

Lihat juga...