Dahlan Iskan: Indonesia Kekurangan Sarjana Eksakta

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Menyikapi salah satu rumor terkait mobil listrik Tesla, terkait tidak kompetennya sumber daya manusia Indonesia, Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan, sebelum menjawab buruk atau tidaknya sumber daya manusia, ada satu hal yang harus disadari, yaitu, Indonesia tidak pernah memetakan kebutuhan tenaga ahli atau sarjana di bidang eksakta.

“Menurut saya, yang kita perlukan adalah menyusun suatu rasio baru di bidang pendidikan untuk mencapai mencapai target negara maju. Karena negara untuk maju itu membutuhkan lulusan eksakta dalam rasio tertentu,” kata Dahlan dalam acara online terkait kualitas pendidikan Indonesia, yang diikuti Cendana News, Kamis (25/2/2021).

Ia menyatakan, berdasarkan pengalamannya sebagai pemilik pesantren, ia melihat sarjana lulusan agama dan sarjana lulusan sosial lebih banyak.

“Harus ditentukan, rasionya. Dipetakan di Kemdikbud. Kalau sekarang, rasio kita cenderung di sarjana sosial. Sarjana agama juga terlalu banyak. Ini perlu kita renungkan dan disusun,” tandasnya.

Dikatakan, hal tersebut perlu direnungkan dan disusun. Dari seluruh populasi masyarakat harus ditentukan, berapa yang dari elektro, berapa yang dari kimia, fisika baik teknik maupun fisika murni, kedokteran, matematika, berapa nuklir atau berapa yang biologi.

“Lalu kita aplikasikan pada perguruan tinggi Indonesia,” tambahnya.

Sementara, Guru Besar Universitas Nasional Jakarta (UNJ) Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd menyatakan bahwa kurangnya sarjana eksakta di Indonesia adalah karena para guru tidak menarik minat murid untuk senang kepada ilmu eksakta.

“Harusnya eksakta itu menjadi ilmu yang menyenangkan. Tapi kenyataannya, guru-guru eksakta menanamkan pemikiran bahwa ilmu tersebut lebih susah dibandingkan ilmu sosial. Padahal, ilmu sosial dan ilmu agama itu jauh lebih rumit karena batasannya tidak jelas dan ruang lingkupnya sangat luas,” ungkapnya dalam kesempatan yang sama.

Ia menegaskan pentingnya untuk mencetak guru yang bisa mengajarkan bahwa eksakta itu tidak lebih susah.

“Bagaimana guru bisa mengajak anak-anak untuk mendalami dan memahami bagaimana alam bekerja. Guru-guru harus bisa menarik minat anak didiknya, jangan hanya menganggap bahwa ilmu mereka lebih bergengsi dibandingkan ilmu lainnya,” ujarnya.

Prof Arief juga menambahkan perlu dipahami juga ada 53 juta murid yang harus ditangani oleh 2,7 juta guru di seluruh Indonesia. Untuk membuat sistem pendidikan yang tepat bagi semua pihak, Kemdikbud harus bisa menggali karakteristik dari semua budaya di Indonesia.

“Negara kita bukan Finlandia ataupun Amerika. Kita punya bahasa dan budaya yang beragam dan sangat banyak, yang merupakan pengemudi dari pembangunan dan kemajuan bangsa ini. Tinggal bagaimana kita menggalinya dan menjadikannya sebagai bagian sistem pendidikan Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...