Desa Cerdas Mandiri Lestari Berlanjut dengan Penguatan

Oleh: Koko Triarko

YOGYAKARTA — Upaya pemberdayaan keluarga berbasis desa, ‘Desa Cerdas Mandiri Lestari’ Yayasan Damandiri, akan terus berlanjut. Capaian program akan dikuatkan dengan membangun ketahanan pangan. Potensi unggulan di suatu desa akan digarap maksimal. Dan, koperasi sebagai motor penggerak perekonomian akan diperkuat dengan pemanfaatan teknologi.

Sekretaris Yayasan Damandiri, Firdaus, Ak., MBA., mengatakan capaian program desa cerdas mandiri lestari di 14 desa binaan, selama lima tahun ini terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya bisa dilihat dari jumlah anggota koperasi yang terus bertambah.

“Kalau masyarakat sudah bisa menabung, berarti sudah bisa menyisihkan pendapatan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jadi, kalau ditanya berapa masyarakat yang sudah terbantu, lihat saja berapa jumlah anggota koperasi di 14 desa itu,” kata Firdaus, dalam wawancara online bersama tim Cendana News, pada Rabu (3/2/2021).

Firdaus mengatakan, upaya pemberdayaan keluarga berbasis desa ini sejak awal dilakukan dengan pendekatan sosial dan ekonomi. Masyarakat yang benar-benar tidak mampu untuk didorong ekonominya, terlebih dahulu diberikan bantuan dana hibah. Kemudian, perlahan diberikan bantuan permodalan dan pendampingan untuk meningkatkan pendapatannya.

Firdaus menjelaskan, sebelum membangun Desa Cerdas Mandiri Lestari, terlebih dahulu dilakukan pendataan dan pemetaan, untuk melihat apa yang perlu dibantu dan potensi apa yang akan dikembangkan.

“Kita tidak ingin program ini tumpang tindih. Maka, kita lakukan pendataan terlebih dulu untuk mengetahui jumlah warga miskin. Kemudian melihat neraca pangan desa, untuk melihat kebutuhan apa yang perlu dibantu.  Lalu, musyawarah desa. Setelah itu baru dibuatkan programnya dengan pendekatan sosial dan ekonomi,” jelas Firdaus.

Menurut Firdaus, target dari program Desa Cerdas Mandiri Lestari  adalah meningkatkan kesejahteraan warga desa, mandiri dan bermartabat. Ukuran sejahtera adalah pendapatan keluarga setara dengan UMR plus 20 persen. Capaian program ditargetkan tercapai dalam waktu tiga tahun.

Dikatakan, sejauh ini dari 14 desa binaan sebagian besar perekonomian masyarakatnya sudah meningkat. Bahkan, ada beberapa desa sudah mampu mandiri.

Ia mencontohkan, Desa Cerdas Mandiri Lestari di desa Samiran, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, saat ini sudah berubah total dan sejahtera dengan dibangunnya objek wisata Taman Bunga ‘Merapi Garden’. Demikian pula dengan desa-desa lain, seperti desa Trirenggo dan Argomulyo di kabupaten  Bantul, Yogyakarta.

“Padahal, sejauh ini Desa Cerdas Mandiri Lestari sebetulnya masih dalam tahap pembangunan. Dan, di 2021 inilah akan dilanjutkan dengan penguatan,” cetus Firdaus.

Penguatan Koperasi dan Teknologi Digital

Di era teknologi digital saat ini, upaya pemberdayaan warga desa dengan koperasi sebagai motor penggeraknya tidak bisa dilakukan secara konvensional. Penerapan teknologi digital mutlak harus diterapkan, seiring dengan tuntutan zaman milenial.

Untuk itu, Firdaus mengatakan beberapa tahun terakhir ini Damandiri sudah menerapkan aplikasi digital dalam menjalankan kegiatan koperasi di desa binaan. Tahun ini, teknologi digital akan terus disempurnakan, sehingga koperasi mampu menjawab tantangan zaman.

“Kita sudah menyiapkan sebuah sistem yang akan mengintegrasikan semua data koperasi di seluruh desa binaan. Aktivitas simpan pinjam dan menabung bisa dilakukan online. Bahkan, kita sudah menyiapkan sistem yang nantinya transaksi di koperasi bisa menggunakan e-money,” kata Firdaus.

Sementara itu menjawab kesiapan SDM di desa dalam menghadapi era digital, Firdaus menegaskan, bahwa masyarakat di desa binaan sudah sangat siap. Ia mengaku sangat optimis, dan mengajak semua pihak untuk tidak menganggap masyarakat desa tidak memiliki kemampuan.

“Kita tidak mau dibilang bodoh. Lihat sejarah, kita bangsa yang besar. KIta harus bangkitkan sejarah itu. Kita ingin masyarakat desa bisa menggunakan teknologi. Semua nanti kalau perlu pakai e-money. Kita ingin, IT di desa sama dengan IT yang ada di kota. Dan, selama pandemi ini kita manfaatkan untuk melakukan edukasi. Bulan Maret mudah-mudahan semua sudah bisa terintegrasi,” jelas Firdaus.

Dijelaskan lagi, bahwa dalam upaya tersebut, Firdaus menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak. Termasuk, dengan pemerintah. Maka, katanya, koperasi harus bersatu.

Firdaus mengatakan, koperasi bersatu dengan kekuatan hampir 80an juta anggota, jika dibuatkan sistem yang baik akan bisa mengalahkan semua. Bahkan, BUMN juga bisa kalah.

“Bayangkan, kalau 80 juta orang saja masig-masing menabung Rp10.000, sudah berapa? Nah, kita bangsa yang besar, tapi terpecah-pecah. Makanya, ide Pak Biakto (Subiakto Tjakrawerdaya/alm-red) ingin sekali menyatukan koperasi di Indonesia, agar menjadi ‘beringin’ yang besar,” kata Firdaus.

Firdaus mengakui, bahwa koperasi saat ini memang ibarat bonsai. Maka, diperlukan keberpihakan. Bahwa, konsep koperasi di Indonesia adalah yang paling bagus dan cocok untuk memajukan perekonomian bangsa Indonesia.

“Orang luar saja mencontoh konsep koperasi kita. Mengapa kita tidak mau? Itulah mengapa Pak Biakto mendatangi menteri koperasi, ingin menunjukkan konsep besar koperasi itu. Inilah perlunya keberpihakan, kolaborasi, dan mengubah image kita tentang koperasi,” tegas Firdaus.

Lihat juga...