Di Masa Presiden Soeharto, Produksi Jagung di Sikka Melimpah

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Koleta Peta, petani jagung di Desa Habi, menyebutkan dulu Kabupaten Sikka terkenal sebagai produksi jagung, bahkan pihaknya menanam jagung hibrida bantuan pemerintah di zaman Presiden Soeharto.

Dia sebutkan, di zaman Presiden Seoharto benih dan pupuk disiapkan pemerintah termasuk ada sumur bor dan curah hujan masih tinggi sehingga hasil panen melimpah.

“Dulu terutama tahun 1980-an saat Gubernur NTT dijabat Ben Mboi, terjadi pengembangan jagung secara besar-besaran dan jagung bisa ditanam setahun minimal 2 kali,” kata Koleta Peta, petani jagung di Desa Habi, saat ditemui Cendana News di kebunnya, Senin (15/2/2021).

Mama Koleta menambahkan, panen jagung saat itu, selain untuk dikonsumsi sendiri juga bisa untuk dijual karena bisa panen setahun dua kali.Kami juga menanam kacang hijau dan kacang tanah untuk menambah penghasilan.

Namun, kini produksi jagung di Kabupaten Sikka, dinilai belum optimal karena tanaman jagung hanya ditanam saat musim hujan sementara di musim kemarau lahan jagung dibiarkan terlantar tanpa ditanami.

Padahal di tahun 1980-an hingga 1990-an Kecamatan Kangae yang terdiri atas 9 desa terutama Desa Langir, Habi dan Watumilok terkenal sebagai penghasil jagung terbesar di Kabupaten Sikka.

Hal senada juga disampaikan Maria Cludensia, petani jagung di Desa Langir yang mengakui saat ini pihaknya kesulitan mendapatkan bantuan pupuk apalagi membeli di toko yang menjual benih dan alat-alat pertanian.

Petani jagung di Desa Langir, Maria Cludensia saat ditemui di kebun jagungnya, Senin (1/2/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Kami sekarang sulit mendapatkan pupuk sehingga tanaman jagung saya tidak diberi pupuk. Paling-paling hasil panen hanya cukup untuk dikonsumsi sendiri saja sebab setahun hanya tanam sekali saja,” ucapnya.

Maria juga membenarkan dulu petani selalu berkecukupan karena hasil panen jagung melimpah apalagi bantuan dari pemerintah sering diberikan.

Bahkan dia pun menyebutkan, Presiden Soeharto pernah datang ke Kabupaten Sikka dan melakukan panen jagung hibrida bersama IbuTien Soeharto di Desa Watumilok, Kecamatan Kangae.

“Kalau dulu Gubernur Ben Mboi gencar meminta petani untuk menanam tanaman pertanian dan perkebunan termasuk menanam lamtoro yang digunakan sebagai tanaman di hutan dan daerah tandus serta makanan ternak,” ungkapnya.

Dalam buku Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978  – 11 Maret 1983, halaman 54, disebutkan Presiden Soaharto dan Ibu Tien Soeharto pada Kamis (1/4/1983) melakukan kunjungan kerja selama 2 hari di NTT.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden bersama Ibu Negara melakukan panen raya jagung hibrida di Desa Watumilok, Kecamatan Kangae dan beliau menyeruhkan agar rakyat NTT menanam jagung.

Kepala Negara mengatakan bahwa intensifikasi mutlak dilakukan sebelum mengadakan ektensifikasi. Selain itu, Presiden  Soeharto juga menekankan perlunya dilakukan pembibitan terhadap bibit unggul.

Lihat juga...