Di Tuktuk, Aku Mengenangmu

CERPEN T. SANDI SITUMORANG

DUDUK di buritan lantai dua, di atas kapal kayu yang akan membawaku dari Pelabuhan Tigaraja menuju Tuktuk: kunikmati bentangan air biru serta embusan angin yang menabrak kulit.

Saat tengadah, kudapati langit biru bercampur putih. Kubayangkan kau ada di sana, menatapku sembari tersenyum lebar.

Lihat, seperti janjiku dulu, kukunjungi tanah kelahiranmu. Akan kudatangi tempat-tempat yang selalu kau ceritakan padaku.

Tiga ratus enam puluh hari rindu menggumpal dalam hati. Memang tidak akan kutemui kau, namun aku percaya, berada di sini akan membuatku merasa dekat denganmu.

Sekitar empat puluh menit kemudian, deretan hotel dan penginapan di bibir danau menyambut kedatanganku. Aku turun di depan Hotel Carolina.

Katamu, semasa SMA setiap malam minggu kau bersama teman-temanku menari tor-tor untuk menghibur tamu di hotel itu.

Ah! Ah! Belum apa-apa aku merasa lebih dekat denganmu, Rona! Itu membuat hatiku hangat.
***
HOTEL Carolina terbilang jauh dari rumahmu. Katamu, kau dan teman-temanmu selalu menempuhnya dengan berjalan kaki.

Setiap Sabtu malam, kalian selalu melakukan pertunjukan tari tor-tor di hotel itu. Kalian tidak mengeluh, meski tengah malam itu hujan menari gemulai. Kalian melangkah pulang sembari bercanda.

Maka aku pun berjalan kaki. Ingin kulintasi jalan yang kerap kau lintasi meski aku tidak cukup nekat melakukannya malam hari, seperti yang kau lakukan bersama teman-temanmu.

Sisi kiri jalan yang kulintasi disemaki deretan hotel maupun penginapan, sementara sisi kanan dipenuhi tempat makan, kios cinderamata serta pedagang lainnya.

Sambil berjalan aku mengenangmu, Rona. Kuingat pertemuan pertama kita di kampus. Perubahan drastis suhu Samosir dan Jakarta membuat pipimu memerah.

Logat bicaramu berbeda. Aku tidak kaget ketika akhirnya jatuh cinta padamu. Kau cantik sekaligus tangguh.

Tangguh! Kuulang kata itu dalam hati. Mungkin, ketangguhanmu itulah penyebab perpisahan kita!

Kugelengkan kepala sembari mengayunkan langkah kian cepat. Menyalahkan yang sudah terjadi serupa dengan menggugat takdir.

“Rumahku tidak jauh dari Jalan Gereja. Dikelilingi hamparan sawah. Di situ masih sepi, satu dua wisatawan melintas dengan sepeda atau motor. Bahkan tidak jarang bule berjalan kaki. Mereka berjalan dari Tuktuk menuju Tomok, atau sebaliknya. Jarak kedua desa itu hanya sekitar lima kilometer,” katamu dulu.

Kau menambahkan, selain menggarap sawah, kalian memiliki warung kopi di depan rumah.

Ada beberapa warung kopi di sekitar Jalan Gereja. Aku masuk pada salah satunya. Aku tidak akan bertanya apakah ini warung keluargamu. Pun tidak akan kutanya di mana rumahmu andai ini bukan warung orang tuamu.

Sesekali kutatap perempuan pemilik warung. Diakah perempuan yang telah melahirkanmu, Rona?

Aku menebak-nebak sembari membandingkan matanya dengan matamu, mencari kesamaan hidungnya dengan hidungmu.

Kemudian kuhentikan keingintahuan itu, karena sesungguhnya aku lebih memilih tidak usah tahu. Tidak bisa kubayangkan rupa kesedihan perempuan kurus ini tiga ratus enam puluh satu hari lalu, bila benar ia ibumu. Bukan mustahil kesedihan itu telah berkerak dalam dasar hatinya.

Seperti sedihku yang lelap di dasar hati, Rona. Aku sering tidak bisa mengendalikan diri bila sedih itu menggeliat bangun.

Yang bisa kulakukan adalah mendatangi tempat-tempat yang kerap kita kunjungi di Jakarta, dan sesekali berpikir dalam hati, andai saja kau tidak mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan S-2 di Jepang. Mungkin tiada perpisahan antara kita.

“Jangan terlalu banyak melamun. Kau masih muda.”

Aku terlempar, menyadari diriku duduk di kursi warung serta perempuan kurus itu berdiri tidak jauh di hadapanku. Aku membalas senyum ramahnya kemudian kubayar segelas kopiku.

Sekarang, aku ingin ke Tomok. Tetapi terlalu jauh menempuhnya dengan berjalan kaki. Jadi aku menyewa sepeda.

Sembari pelan menganyuh pedalnya, mataku dimanjakan hamparan hijau daun-daun padi. Aku teringat perbincangan ketika kita menunggu hujan reda di serambi kampus.

“Danau Toba dikelilingi tujuh kabupaten yang ada di Sumatera Utara. Kampungku namanya Tuktuk, sebuah desa wisata di Pulau Samosir, Kabupaten Samosir. Setiap wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba, selalu ingin melanjutkan perjalanan ke Pulau Samosir. Selain pemandangan yang indah, di sana banyak wisata budaya. Salah satunya adalah Patung Sigale-gale. Kau pernah dengar patung itu?” lekat kau menatapku.

“Aku hanya tahu patung itu bisa menari. Ceritakan kisah di balik patung itu.”

“Zaman dahulu,” katamu bersemangat sembari mengibas rambut panjang hitammu. “Seorang raja di tanah Batak jatuh sakit karena dukanya kehilangan anak lelaki di medan perang. Tidak seorang pun sanggup mengobati. Penasihat raja meminta seorang pandai ukir membuat patung yang mirip dengan anak sang raja.

Kemudian seorang dukun memanggil arwah anak raja dan memintanya masuk ke dalam patung. Melihat patung yang menyerupai anaknya itu, raja sangat gembira. Kemudian raja dan patung yang menyerupai anaknya menari tor-tor, diikuti seluruh rakyatnya. Jadi begitulah, setiap kali raja rindu dengan anaknya, raja akan menari bersama patung itu.

Tapi, kalau kau berkunjung ke Samosir, jangan bayangkan kau menemukan patung menari sendiri. Karena sekarang, patung itu bergerak dengan bantuan seseorang di belakangnya.”

“Aku juga tidak ingin bertemu patung yang bisa menari sendiri.”

Kita berdua tertawa saat itu.
***
MATAHARI nyaris terjerembab di punggung bukit saat sepedaku melintasi persawahan. Aku sampai lupa waktu di Tomok, mendatangi tempat-tempat yang pernah kau ceritakan.

Selain menyaksikan wisatawan menari bersama sigale-gale, aku melihat makam-makam raja yang pernah berjaya di tanah Batak, membeli banyak asesoris untuk kubawa pulang, bahkan aku sempatkan melihat makam di atas pohon.

Angin bertiup dari depan, ada aroma hujan di sana. Kukayuh sepeda lebih kencang. Aku berteduh di depan sebuah rumah kosong ketika butiran air berjatuhan di puncak kepalaku.

Hujan yang rapat mengingatkanku padamu, Rona. Kau sangat suka hujan, kau mencintai air. Bahkan kau sangat memuja Danau Toba. Ternyata, air juga sangat mencintaimu. Air memeluk tubuhmu selamanya.

“Permisi.”

Seorang lelaki baru saja melompat dari punggung kuda kemudian berteduh bersamaku. Ia memakai sarung berbahan ulos sementara tubuh bagian atasnya hanya ditutupi selempang ulos. Tali-tali meliliti kepalanya. Ia sungguh unik.

“Kudanya bagus,” kataku berbasa-basi.

Lelaki itu tersenyum. “Kuda kesayanganku. Aku selalu menaikinya saat ayah rindu padaku.”

Rona, kau tidak pernah bilang di sini orang masih menggunakan kuda sebagai alat transportasi.

“Ayahku sangat mencintaiku. Itu sebab ia selalu merindukanku, ingin bertemu denganku. Itu membuatku sangat sedih. Andai saja ayah bisa menerima keadaan.”

“Wajar saja orangtua merindukan anaknya. Apa kau tinggal jauh dari rumah ayahmu?”

“Sangat jauh,” desis lelaki itu pelan.

Ajaklah ayahmu tinggal bersamamu, hampir saja kalimat itu keluar dari bibirku. Tiada hakku mencampuri hidupnya.

Tidak lama ia pamit pergi. Padahal hujan masih rapat.

“Namaku Manggale. Siapa namamu?” Ia bertanya setelah mendarat di punggung kuda.

“Bagus Sulistyo.”

Lelaki itu tersenyum. “Kau terlihat sangat lelah. Jadi, teruskanlah perjalananmu, Bagus Sulistyo.”
Keningku terangkat, apa haknya menyuruhku menerobos hujan? Hendak kubantah ucapan itu, namun sebentar saja tubuhnya menghilang dalam rimbunan hujan.

Lima belas menit kemudian aku menyerah. Kukayuh sepeda sembari menikmati butiran air tumpah di tubuhku.

Sudah lama sekali aku tidak mandi hujan seperti ini. Terakhir aku melakukannya bersamamu, Rona. Setelah kita lelah menanti hujan reda, di serambi kampus.

“Apakah anak raja bernama sigale-gale?” Waktu itu, di bawah hujan aku bertanya, melanjutkan ceritamu tentang sigale-gale.

“Anak raja bernama Manggale. Sigale-gale itu bahasa Batak, artinya Si Lemah Lembut.”

Aku terperanjat sampai sepedaku berhenti tiba-tiba.

Anak raja bernama Manggale, terngiang suaramu di telingaku.

Namaku Manggale, kata lelaki itu tadi.

Tengkukku terasa jauh lebih dingin. Kukayuh sepeda lebih cepat. Apakah mereka orang yang sama?
Itu membuatku sangat sedih. Andai saja ayah bisa menerima keadaan.

Kukayuh pedal sepeda sekuat kaki, padahal jalan di depanku hanya berupa bayangan. Terus saja suara lelaki itu seperti mengikuti dari belakang.

Ronauli, apakah kau juga sedih aku selalu mengais-ngais masa lalu kita?

Barangkali, kehilangan ini tidak akan begitu kuat membekap, andai waktu itu kau tiba di Jepang, bukan malah hilang entah di lautan mana dengan kedalaman berapa. ***

T. Sandi Situmorang, penulis kelahiran tepi Danau Toba. Sekarang, menetap di Binjai, Sumatera Utara. Cerpen tulisannya pernah tampil di berbagai surat kabar serta majalah. Ia juga menulis puisi dan novel.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...