Dishut: Banjir Jember Bukan karena Faktor Kerusakan Hutan

Editor: Makmun Hidayat

JEMBER — Bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Jember belakangan ini, dinilai bukan karena faktor kerusakan hutan. Banjir terjadi akibat luapan air hingga berdampak pada rusaknya rumah-rumah penduduk.

“Peristiwa hutan kebakaran yang terjadi pada tahun 2019 di wilayah Gunung Argopuro, bukan serta merta penyebab banjir. Untuk aliran sungai yang mengalir dari hulu ke hilir kondisinya juga cukup baik. Memang banjir disebabkan oleh air,” ujar Kepala Sub Seksi Komunikasi Perusahaan dan Pelaporan Dinas Perhutani Kabupaten Jember, Agus Sulaiman, kepada Cendana News, di kantornya, Rabu (3/2/2021).

Petugas dari Perhutani sering kali melakukan pemeriksaan terhadap keadaan hutan. Pemeriksaan hutan yang dilakukan memantau aliran sungai dari hulu baik, dan memastikan agar tidak terjadi kerusakan, yang menyebabkan bencana banjir dari wilayah utara Kabupaten Jember.

Agus Sulaiman, saat di temui di Kantor Perhutani Wilayah Kecamatan Sumbersari, Jember, Rabu (3/2/2021). -Foto: Iwan Feri Yanto

Menurutnya, bencana banjir memang disebabkan air yang meluap karena daya tampung di dalam tanah tidak mumpuni, sudah melebihi kapasitas daya tampungnya.

“Kerusakan hutan bukan menjadi faktor utama penyebab banjir. Intensitas hujan yang terjadi secara terus menerus, volume air tidak tertampung semua, maka air yang tidak tertampung akan meluap,” tuturnya.

Saat ini hutan lindung yang ada di wilayah Kabupaten Jember jumlah persentasenya lebih besar dari pada sebagai hutan produksi, yakni 70 persen dari sebagian hutan produksi yang di kelola oleh Perhutani. Namun karena hujan yang mengguyur Jember dalam waktu yang lama, berdampak terjadi banjir.

“Akibat dari turunnya hujan yang terus menerus maka airnya akan meluap dan banjir. Sedangkan wilayah utara Kabupaten Jember merupakan wilayah hutan lindung. Titik wilayah hutan lindung tersebar di beberapa di beberapa wilayah, di antaranya sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo, sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Bondowoso, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi dan di sebelah selatan berbatasan dengan pantai selatan,” jelasnya.

Sebelumnya, curah hujan yang terjadi di Jember cukup deras, dan hampir setiap hari. Akibatnya aliran sungai banyak yang meluap kepermukaan, dan menyebabkan banjir di wilayah Bangsalsari, Tempurejo. Curah hujan yang tinggi kembali terjadi lagi pada 28 Januari, akhirnya terjadi luapan air dis epanjang aliran Sungai di Bedadung yang bermuara ke laut di wilayah Puger, Jember.

Agus Sulaiman menyebutkan, Perhutani sebelumnya juga sudah bekerja sama dengan berbagai pihak. Yakni BPBD, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, memberikan sosialisasi kepada warga tentang potensi yang akan menyebabkan terjadinya banjir.

“Sosialisasi ini kami terus lakukan dalam upaya melindungi masyarakat dari dampak bencana banjir. Intensitas kegiatan patroli untuk memantau kenaikan volume air di hulu terus kami lakukan, hingga kami membentuk Tim Satgas Bencana, yang bertugas memberikan informasi tentang akan kenaikan volume air yang terjadi. Sampai saat ini pantauan dan patroli kami lakukan dengan menggunakan APD yang ada,” jelasnya.

Sementara itu, Bidang Perhutanan Dinas Lingkungan Hidup Jember, Sigit Boedi mengatakan, hutan rusak atau gundul bukan salah satu penyebab terjadinya bencana banjir. Ia mencontohkan dataran tinggi yang berada di daerah Silo gundul, namun tidak berdampak kepada terjadinya bencana banjir.

Ia menambahkan, saat ini intensitas hujan di Kabupaten Jember memang tinggi. Lembaga BMKG juga memberikan informasi dan memperingatkan, bahwa di wilayah Kabupaten Jember masuk pada area yang berpotensi terjadi bencana banjir.

Lihat juga...