Diterjang Banjir Bandang, 14 Rumah Warga di Sikka Rusak

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Banjir bandang yang menerjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lewo Mego di Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakibatkan 14 rumah warga mengalami kerusakan.

Selain itu, puluhan warga yang rumahnya berada di bantaran kali Lewo Mego juga terpaksa harus mengungsi ke rumah tetangga terdekatnya yang tidak terkena dampak agar bisa selamat.

“Kita sedang lakukan pendataan di lapangan.Saat ini baru terdata 14 rumah warga di Dusun Tanali yang terkena dampak,” sebut Kepala BPBD Sikka, Muhammad Daeng Bakir saat dihubungi Cendana News, Rabu (10/2/2021).

Daeng Bakir mengatakan, banjir bandang masih terjadi sehingga pihaknya sudah meminta warga yang rumahya berada di dekat bantaran kali agar mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Dirinya menambahkan, banjir bandang juga mengakibatkan 6 kepala keluarga di Desa Rate Kalo dan 50 kepala keluarga di Desa Paga juga mengalami dampak terkena banjir bandang.

“Banjir bandang masih terjadi sehingga kami telah mengimbau warga yang berada di sekitar bantaran kali untuk mengungsi sementara waktu. Petugas kami masih terus memantau di lokasi dan bantuan pun sudah diserahkan Bupati Sikka,” sebutnya.

Warga Desa Bhera, Silvester Riku, menyebutkan, banjir bandang yang menerjang wilayah desanya ini tergolong lebih besar bila dibandingkan dengan banjir bandang sehari sebelumnya, Senin (8/2/2021).

Dikatakan Silvester, ketika terjadi banjir bandang warga ketakutan dan berlari menyelamatkan diri dan barang-barang berharga mereka ke rumah tetangga yang berjarak sekitar 5 meter dari bantaran kali.

“Warga sudah memindahkan semua barang berharga mereka ke rumah tetangga yang jaraknya agak jauh dari bantaran kali. Banjir membuat bangunan kamar mandi dan toilet rusak parah termasuk kandang babi yang berada di pinggir kali,” ujarnya.

Sekretaris Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FFPB) Sikka, Yuven Wangge saat ditanyai Cendana News menyebutkan, banjir bandang terjadi akibat dari rusaknya daerah hulu atau hutan di wilayah puncak atau gunung.

Yuven mengatakan, perlu dicek apakah wilayah hutan yang merupakan daerah resapan air apakah sudah rusak akibat adanya penebangan pohon maupun pembukaan lahan ataukah masih bagus.

“Harus dicek daerah hulunya sebab biasanya banjir bandang terjadi karena daerah tangkapan air mengalami kerusakan. Pepohonan yang menjadi penahan air di hutan pasti banyak yang ditebang dan hutan sudah gundul,” ucapnya.

Lihat juga...