Ekonom INDEF: BSI Berpeluang Diakui Dunia Global

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Iman Sugema, menilai, pembentukan Bank Syariah Indonesia (BSI) di tengah pandemi Covid-19 menjadi titik balik peningkatan ekonomi syariah di Indonesia.

Apalagi menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, sangat ironis sekali jika tidak memiliki bank syariah atau islamic banks yang cukup diakui atau recognized di tatanan global.

“Tentu, ironis ya kalau kita sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, tidak memiliki bank syariah yang recognized di dunia global,” ujar Iman, pada webinar INDEF bertajuk ‘Merger Bank Syariah: Bank Baru, Market Share Baru’ di Jakarta yang diikuti Cendana News, Selasa (16/2/2021).

Menurutnya, market keuangan syariah di Indonesia sangat luas dibandingkan dengan negara lain yang berpenduduk muslim di dunia. Ini menjadi peluang pemerintah untuk mendorong Indonesia memiliki islamic bank yang cukup diakui dunia internasional.

Apalagi sebut dia, dari sisi komparatif, dampak dari pandemi Covid-19 di Indonesia relatif lebih ringan dibandingkan negara-negara lain.

Tentu ini kesempatan melakukan positioning bagi perbankan di Indonesia untuk membentuk BSI mencapai top target ultimate gol di posisi 10 besar dalam capitalization globalisasi islamic banks.

“Indonesia lebih ringan terdampak Covid-19, maka kita bisa curi start. Artinya, kita bisa memicu akselerasi di kala negara lain sedang kesulitan,” tukasnya.

Dan keuntungan curi start ini menurutnya, hanya bisa diperoleh jika BSI hasil merger tiga bank syariah milik BUMN ini menghimpun kekuatan yang cukup besar ke depan.

“Kekuatan dengan lompatan yang paling dirasakan adalah digitalisasi yang bertambah deras di tengah pandemi Covid-19 ini. Jadi, kalau sebuah bank syariah itu masih relatif kecil, maka digitalisasi itu menjadi terbatas, tapi kalau sudah besar terbentuk peluang pun juga besar,” urainya.

Menurutnya, digitalisasi bisa diakselerasi karena didukung permodalan yang kuat hasil merger tiga bank syariah yang merupakan perusahaan anak tiga bank BUMN.

“BSI saat ini memiliki modal inti mendekati Rp 21 triliun dengan basis nasabah mencapai sekitar 15 juta orang,” ujarnya.

Dalam melakukan transformasi digital, perlu modal dan jaringan konsumen besar. Jika bank, modal di bawah Rp 10 triliun, maka digitalisasi akan jauh lebih sulit.

Lebih lanjut diungkapkan, bahwa merger bank syariah merupakan salah satu cara yang akan mendongkrak pangsa pasar.

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) November 2020, pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia baru mencapai 6,33 persen, sedangkan sisanya dikuasai bank konvensional.

Padahal, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar merupakan peluang besar mengembangkan perbankan syariah di Indonesia.

“Selama ini perbankan syariah Indonesia lebih banyak bernaung di bawah bank konvensional sebagai induk usaha. Dari sisi ukuran keuangan menjadi lebih kecil,” ujarnya.

Sehingga hal ini menurutnya, berdampak pada cakupan layanan kepada nasabah juga terbatas, baik variasi produk dan jenis layanannya. Begitu juga dengan investasi di bidang teknologi tidak optimal.

Akibatnya, kata Iman, bank syariah yang berukuran kecil tersebut akan kesulitan mencari dana murah dan bagi hasil. Sehingga kondisi ini menjadi tidak sehat bagi perkembangan bank syariah di Indonesia.

Sedangkan di sisi lain sebutnya, untuk mengembangkan bank syariah juga tidak terlepas dari peran para bankir top. Sehingga perlu disediakan insentif yang kompetitif.

“Ya, kalau bank syariah bisa hire top bankir, tentu dengan sendirinya perusahaan akan berkembang,” pungkasnya.

Lihat juga...