Geliat Produksi Ikan Asap di Semarang, Tak Terpengaruh Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Bau ikan dan aroma khas pembakaran, segera tercium saat memasuki sentra pembuatan ikan asap di Kota Semarang, yang terletak di Kampung Mangut, Bandarharjo. Pandemi covid-19 yang masih terjadi, rupanya tidak terlalu berpengaruh pada permintaan. Setiap hari, ratusan kuintal ikan mangut diolah oleh para pekerja di rumah produksi yang terletak di samping Kali Semarang tersebut.

“Setiap hari sekitar 4-5 kuintal ikan mangut kita olah menjadi panggang, atau ikan asap. Ikan-ikan ini didatangkan dari berbagai wilayah, ada yang dari Rembang, Probolinggo, hingga Jakarta. Malah kalau dari Semarang tidak ada, karena sentra ikan mangut di wilayah lain,” papar pembuat ikan asap, Muslimah, saat ditemui di sela kesibukannya mengasapi ikan di kampung tersebut, Kamis (11/2/2021).

Diakuinya, pandemi covid-19 tidak banyak berpengaruh pada permintaan ikan asap. Produktivitas juga tidak banyak berubah, hampir sama seperti sebelum ada pandemi. “Awalnya saja sempat turun, karena banyak warung makan yang tutup, orang juga takut keluar beraktivitas, namun sekarang sudah normal kembali,” terangnya.

Dijelaskan, hampir seluruh ikan asap yang diproduksi tersebut sudah ada yang memesan, sementara sisanya baru dijual ke masyarakat umum.

“Kita jual dalam jumlah banyak, sudah ada pedagang atau warung makan yang pesan. Jadi setiap hari mereka tinggal ambil. Sisanya baru dijual umum, kadang ada yang datang kesini, beli eceran 1-3 kilogram,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Nurwati. Meski di tengah pandemi covid-19, usaha tersebut tetap berjalan, seolah tidak terpengaruh. “Semuanya sudah dipesan, rata-rata hampir 90 persen. Jadi kita memang tidak asal buat, bisa rugi nanti kalau coba-coba,” terangnya, sembari terus beraktivitas, memasukkan potongan lidi pada ikan manyung yang akan diasapi.

“Ini diberi lidi, agar daging ikan tidak terbelah saat diasapi. Selain itu, agar hasil pengasapan juga bagus, bisa rata sehingga tidak mudah busuk,” lanjutnya.

Rutinitas tersebut dijalaninya puluhan tahun sebagai pembuat ikan panggang atau asap, khususnya ikan manyung dan pari. Dirinya pun mengaku akan terus menekuni pekerjaan tersebut, hingga nanti sudah tidak kuat lagi.

“Para pekerja disini, juga rata-rata warga sekitar. Jadi memang ini mata pencaharian kita. Harapannya, minat masyarakat akan ikan asap tetap tinggi, sehingga kita bisa terus berproduksi,” terangnya.

Para pekerja tengah memotong dan membersihkan ikan, sebelum dipanggang atau diasapi, di Kampung Mangut, Bandarharjo Semarang, Kamis (11/2/2021). Foto Arixc Ardana

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, untuk sekilo ikan asap dihargai sekitar Rp 65 ribu. Isinya sekitar 30-40 potong. Sedangkan, kepala ikan asap atau ndas manyung Rp30 ribu, berisi 5-6 potong.

Ikan asap tersebut, tidak hanya dipasarkan di wilayah Semarang, namun juga di berbagai daerah lainnya, termasuk dikirim ke luar Jateng. Seperti Surabaya, Jakarta, hingga Bandung.

Di sentra pembuatan ikan asap tersebut, ada setidaknya 20 rumah pengasapan berjajar rapi. Jika masing-masing rumah produksi, mampu mengolah 4 kwintal ikan, maka setiap hari setidaknya 80 kuintal atau 8 ton per hari. Sebuah angka yang besar, untuk skala industri rumahan.

Lihat juga...