Guru PAUD di Sikka Inisiatif Datangi Murid Selama Pandemi

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, lewat surat  keputusan Bupati Sikka dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga (PKO), mengeluarkan kebijakan menghentikan pembelajaran tatap muka hingga 25 Februari 2021.

Dampak keputusan ini membuat lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terpaksa menyelenggarakan pembelajar dari rumah ke rumah.

“Sementara waktu, kami belum melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah,” kata pendiri PAUD Restorasi, Patisomba, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Remigius Nong, saat ditemui di sekolahnya, Kamis (4/1/2021).

Remi, sapaannya, mengatakan untuk menyiasati situasi ini dirinya bersama para guru mendatangi para murid di rumah mereka dengan membawa buku pelajaran, dan mengajar mereka di rumah.

Dia mengatakan, dalam kegiatan belajar di rumah hanya diikuti oleh satu-dua murid saja, sebab pihaknya membatasi jangan terlalu banyak murid, guna mencegah penularan Covid-19.

“Kita tetap menerapakan pembelajaran di rumah, namun murid yang hadir hanya satu-dua orang saja. Para guru mengajar dari rumah ke rumah dan semua tenaga pengajar merupakan relawan tanpa menerima gaji,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan pendiri PAUD Pelita Hati, Kelurahan Wairotang, Kota Maumere, Maria C.Lilys Supratman, yang harus meluangkan waktu bersama seorang guru mengajar murid.

Lilys, sapaannya, mengatakan selama pandemi Corona pihaknya pun harus menyisihkan waktu mendatangi para murid di rumah-rumah mereka, yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah.

“Kami harus meluangkan waktu mendatangi para murid di rumah mereka, sebab banyak orang tua yang mengeluhkan anak mereka menangis minta ke sekolah,” ungkapnya.

Lilys mengakui untuk mendatangi para murid, pihaknya pun tidak mendapatkan bayaran, sebab sekolah yang didirikan tersebut kebanyakan muridnya merupakan anak-anak dari orang tua yang tidak mampu secara ekonomi.

Diakuinya, akibat tidak ada pembelajaran tatap muka menyebabkan para murid mulai ketinggalan dalam membaca dan menulis, apalagi di usia dini anak-anak lebih suka bermain.

“Tentunya kita berharap agar pandemi segera usai, agar anak-anak bisa kembali belajar di sekolah. Kami para guru juga terkadang merasa tidak enak mendatangi anak-anak dari rumah ke rumah, apalagi di tengah situasi pandemi seperti sekarang,” ungkapnya.

Lihat juga...