Hajatan di Banyumas Diperbolehkan, Harga Telur Terangkat Naik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANYUMAS – Mulai dilonggarkannya sejumlah aturan dalam penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kabupaten Banyumas, di antaranya momen hajatan sudah diperbolehkan dilaksanakan, sangat menolong para peternak ayam petelur. Secara perlahan harga telur mulai terangkat, meskipun masih dalam posisi merugi.

Anjloknya harga telur sudah berlangsung selama tiga bulan lebih. Di mana harga telur di tingkat peternak bahkan di bawah Break Even Point (BEP). Harga telur terendah sempat menyentuh Rp 15.500 per kilogram. Saat ini mulai naik dan sudah mencapai Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per kilogram.

Pengelola peternakan ayam di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Darwo Sukarso mengatakan, meskipun sudah mengalami kenaikan, namun harga tersebut masih di bawah BEP. Dimana BEP telur pada kisaran Rp 19.500 per kilogram. Artinya masih ada selisih Rp 1.500 yang harus ditanggung peternak dari tiap kilogram telur yang dihasilkan.

Pengelola peternakan ayam di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Darwo Sukarso dijumpai di Purwokerto, Jumat (26/2/2021). Foto: Hermiana E. Effendi

“Saat ini momen hajatan sudah diperbolehkan di Kabupaten Banyumas dan hal ini sangat menolong kami, para peternak. Dengan adanya hajatan, diharapkan konsumsi telur naik dan akan mampu mengatrol harga juga,” katanya, Jumat (26/2/2021).

Namun, mengingat masih ada berbagai pembatasan aturan dalam gelaran hajatan yang cukup ketat, termasuk di antaranya tidak diperbolehkan menggelar hidangan prasmanan, maka peningkatan konsumsi telur juga belum terlalu signifikan. Sehingga juga belum mampu mengatrol harga telur.

Meskipun terus mengalami kerugian, namun peternak telur di Kabupaten Banyumas masih berusaha untuk terus bertahan, sambil menunggu kondisi membaik.

“Saat kondisi merugi sudah sampai puncak, kita terbantu dengan adanya program bantuan sosial dari pemerintah yang salah satunya adalah telur. Sehingga telur produksi kita banyak yang terserap untuk bansos tersebut dan hal ini sedikit meringankan,” tuturnya.

Hal lain yang juga mempengaruhi harga telur yaitu distribusi yang terganggu. Darwo mencontohkan, untuk pengiriman telur ke Jakarta sempat terhenti karena pemberlakuan PPKM. Akibatnya, telur di Banyumas tidak bisa keluar dan stok membludak, sehingga harga telur terus terjun bebas.

Momen lain yang diharapkan mampu mengangkat harga telur yaitu masa pendaftaran anak sekolah ataupun pendaftaran masuk perguruan tinggi juga tidak akan sesuai dengan harapan. Mengingat, pada masa pandemi ini pendaftaran banyak dilalukan secara online.

“Kalau masa pendaftaran sekolah, banyak orang luar kota yang berdatangan dan konsumsi telur juga meningkat. Tetapi untuk tahun ini, kelihatannya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, karena sampai sekarang masih sepi,” tuturnya.

Bahkan untuk momentum puasa ataupun lebaran pada bulan-bulan mendatang, Darwo Sukarso mengaku tidak berani untuk terlalu berharap.

Manager Putra Jaya Farm, peternakan ayam di Kecamatan Sumbang, Suryati mengatakan, pihaknya terpaksa merumahkan beberapa pekerja di peternakan ayam, termasuk diberlakukannya pengurangan jam kerja. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi biaya pemeliharaan, supaya peternakan bisa tetap bertahan.

“Memang tidak sampai tutup atau gulung tikar, tetapi biaya produksi harus dilakukan penghematan dan pengetatan,” pungkasnya.

Lihat juga...