Harga Merosot Terimbas Pandemi, Petani di DIY Kesulitan Jual Hasil Panen

Editor: Mahadeva

Salah seorang petani, Giono, warga Dusun Demen Wijimulyo Nanggulan Kulonprogo – Foto Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Sejumlah petani di wilayah Bantul dan Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai mengeluhkan sulitnya menjual hasil panen. Hal tersebut sudah mereka rasakan beberapa waktu belakangan ini.

Selain kesulitan mencari pembeli, petani juga mengeluhkan harga jual gabah yang semakin merosot. Salah seorang petani, Surahman, warga Argorejo Sedayu Bantul, mengaku kesulitan menjual gabah kering panen sejak sebulan terakhir.

Ia menyebut, pandemi COVID-19, membuat daya beli masyarakat semakin menurun. Sehingga mempengaruhi serapan hasil panen para petani.  “Biasanya, banyak pedagang yang antri untuk membeli gabah hasil panen petani. Tapi sekarang sulit bukan main. Kalaupun ada yang mau membeli, hanya pedagang besar. Itupun dengan harga rendah,” ujarnya, Senin (8/2/2021).

Sementara untuk pedagang kecil di desa-desa disebutnya, sudah tak berani membeli hasil panen petani. Menurut Surahman, hal itu salah satunya disebabkan karena menurutnya daya beli masyarakat. Semuanya sebagai dampak dari pandemi COVID-19 setahun terakhir. Masyarakat di tingkat menengah ke bawah disebutnya, cenderung memilih menghemat pengeluaran, meskipun untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras sekalipun.

Petani lainnya, Giono, warga Dusun Demen Wijimulyo Nanggulan Kulonprogo mengaku, hanya mampu menjual gabah basah panen di kisaran harga Rp3.800 per kilogram. Harga jual gabah di tingkat petani itu dianggap merosot drastis, bila dibandingkan dengan kondisi sebelum-sebelumnya, yang bisa mencapai Rp5.000 lebih per kilogram.

“Sekarang harga gabah merosot drastis. Dulu setiap panen bisa laku sampai Rp6000, tapi sekarang untuk bisa laku Rp5000 saja susah. Terakhir saja gabah saya hanya laku Rp3800 per kilogram Gabah Basah Panen,” katanya Senin (08/02/2021).

Merosotnya harga jual gabah di tingkat petani itu semakin diperparah dengan membengkaknya biaya operasional yang harus dikeluarkan petani di setiap musim tanam. Hampir semua kebutuhan biaya operasional meningkat, baik itu karena berkurangnya jatah pupuk bersubsidi, meningkatnya biaya upah penggarap, biaya traktor, hingga biaya operasional lainnya.  “Dengan kondisi seperti ini, jelas petani semakin merugi. Karena pendapatan semakin berkurang. Sementara harga-harga kebutuhan pokok terus meningkat,” ungkapnya.

Para petani hanya bisa berharap, pemerintah lebih serius dalam memperhatikan nasib mereka. Khususnya di masa pandemi seperti sekarang ini, mengingat petani merupakan ujung tombak sekaligus penopang utama ekonomi nasional khususnya di sektor pangan.  “Kita berharap agar pemerintah lebih memperhatikan nasib petani di masa pandemi seperti sekarang ini. Jangan dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja,” pungkasnya.

Lihat juga...