Harga Minyak Jatuh untuk Hari Kedua Berturut-turut

NEW YORK — Harga minyak turun untuk hari kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mundur lebih jauh dari tertinggi baru-baru ini, ketika perusahaan-perusahaan energi Texas bersiap untuk mengoperasikan kembali ladang-ladang minyak dan gas yang ditutup oleh cuaca membeku dan pemadaman listrik.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April jatuh 1,02 dolar AS atau 1,6 persen, menjadi ditutup pada 62,91 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret terpangkas 1,28 dolar AS atau 2,1 persen, menjadi menetap di 59,24 dolar AS per barel.

Untuk minggu ini, Brent naik sekitar 0,5 persen sementara WTI turun sekitar 0,7 persen. Minggu ini, kedua harga acuan minyak telah naik ke level tertinggi dalam lebih dari setahun.

“Penurunan harga sejauh ini tampak korektif dan sedikit dalam konteks akselerasi kenaikan harga besar bulan ini,” kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates.

Cuaca dingin yang tidak biasa di Texas, negara bagian penghasil energi terbesar AS, dan negara bagian Plains lainnya membatasi produksi minyak mentah hingga empat juta barel per hari (bph) dan 21 miliar kaki kubik gas alam, perkiraan para analis.

Perusahaan-perusahaan energi AS minggu ini memangkas jumlah rig minyak yang beroperasi untuk pertama kalinya sejak November, menurut data Baker Hughes.

Pabrik-pabrik penyulingan di Texas menghentikan sekitar seperlima dari pemrosesan minyak nasional di tengah pemadaman listrik dan cuaca dingin yang parah.

Perusahaan-perusahaan diperkirakan bersiap untuk memulai kembali produksi pada Jumat waktu setempat, ketika tenaga listrik dan layanan air perlahan dimulai kembali, kata beberapa sumber.

“Sementara sebagian besar penjualan berkaitan dengan mulai pulihnya aliran listrik secara bertahap di wilayah pesisir Teluk (Meksiko) menjelang pemanasan suhu yang signifikan, besarnya kehilangan pasokan minggu ini mungkin memerlukan diskon lebih lanjut karena banyak ketidakpastian mengenai tingkat dan kemungkinan durasi kehilangan produksi,” kata Ritterbusch.

“Sudah ada tanda-tanda kemarin sore bahwa harga mulai goyah dan koreksi mungkin akan terjadi – yaitu ketika harga tidak lagi menanggapi data persediaan AS yang sangat bullish,” Carsten Fritsch, analis energi di Commerzbank Research, mengatakan dalam sebuah catatan pada Jumat (19/2/2021).

Harga minyak jatuh meski ada penurunan mengejutkan dalam stok minyak mentah AS pekan lalu, sebelum dilanda cuaca beku ekstrem. Persediaan turun 7,3 juta barel menjadi 461,8 juta barel, terendah sejak Maret, Badan Informasi Energi melaporkan pada Kamis (18/2/2021).

“Vaksin-vaksin dan peluncuran mengesankan yang telah kami lihat telah memberikan keuntungan yang kuat, seperti halnya upaya OPEC+, Arab Saudi, khususnya, dan pembekuan besar di Texas, yang memberi harga minyak satu tendangan terakhir minggu ini,” kata Craig Erlam, senior analis pasar di OANDA.

“Dengan begitu banyak faktor bullish yang diperhitungkan sekarang, tampaknya kami melihat beberapa posisi ini dibatalkan.”

Amerika Serikat pada Kamis (18/2/2021) mengatakan siap untuk berbicara dengan Iran tentang kembali ke perjanjian 2015 yang bertujuan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Namun, para analis tidak memperkirakan pembalikan sanksi jangka pendek terhadap Iran yang diberlakukan oleh pemerintahan AS sebelumnya.

“Terobosan ini meningkatkan kemungkinan bahwa kita mungkin melihat Iran kembali ke pasar minyak segera, meskipun ada banyak hal yang harus dibahas dan kesepakatan baru tidak akan menjadi salinan karbon dari kesepakatan nuklir 2015,” kata analis StoneX, Kevin Solomon. [Ant]

Lihat juga...