Hidangan Khas Bangka Sup Daging Fucuk Kai, Sajian Lezat Kala Penghujan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Musim penghujan, kuliner menghangatkan badan berbumbu rempah jadi alternatif sejumlah ibu rumah tangga. Kuliner tradisional sup dari kembang tahu atau dikenal fucuk kai dengan daging jadi alternatif sajian akhir pekan.

Wandriasari, salah satu penyuka sup daging fucuk kai menyebut kuliner menghangatkan cocok untuk penambah stamina. Warga Teluk Betung, Bandar Lampung itu menyebut proses pembuatan cukup sederhana.

Bahan utama yang disiapkan berupa daging sapi yang sebagian masih memiliki tulang, dipilih bagian iga. Pelengkap tambahan berupa kembang tahu yang dikenal dengan sebutan fucuk kai. Merupakan kulit atau kembang tahu yang dikeringkan.

Fucuk kai sebut Wandriasari merupakan bahan kuliner tradisional khas Bangka. Sebagian etnis Tionghoa asal Bangka menggunakan kembang tahu kering jadi alternatif sejumlah olahan salah satunya sup. Bumbu penyedap rempah meliputi bawang putih, gula pasir, lada bubuk, garam, penyedap kaldu daging, penyedap rasa.

“Bahan utama daging sapi yang telah dibersihkan lalu direbus menggunakan air mendidih hingga menghasilkan kaldu, ditandai dengan aroma harum, lalu ditambahi dengan bumbu garam, penyedap rasa, gula pasir,” terang Wandriasari saat ditemui Cendana News, Sabtu (20/2/2021).

Wandriasari bilang kembang tahu yang masih kering disobek kecil kecil. Fucuk kai yang dimasukkan dalam rebusan sup daging mendidih akan layu dan bumbu akan tercampur merata. Untuk penambah cita rasa, bisa ditambahkan potongan kentang, brokoli, wortel, daun seledri, daun bawang atau kacang merah.

Kembang tahu sebut Wandriasari jadi produk sampingan pengolahan kedelai. Dalam proses pembuatan fu sui atau susu kedelai, endapan air dibuat menjadi kembang tahu. Dalam kondisi kering melalui proses penjemuran, kembang tahu dibuat menjadi fucuk kai yang lembut, kenyal seperti kulit yang lezat untuk dibuat sup.

“Setelah semua bahan matang sup daging sapi fucuk kai bisa disajikan dalam kondisi hangat,” beber Wandriasari.

Kuliner sup daging sapi fucuk kai sebut Wandriasari jadi sajian khas warga asal Bangka di Teluk Betung. Wilayah yang berada di pesisir Teluk Lampung dengan kondisi cuaca penghujan, angin kencang berimbas potensi stamina tubuh menurun.

Wandriasari melakukan proses penyiapan sejumlah bumbu untuk memasak sup daging kembang tahu atau fucuk kai di Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu (20/2/2021). Foto: Henk Widi

Christeva, penyuka kuliner sup daging sapi fucuk kai menyebut hidangan itu cocok disajikan saat penghujan. Ia kerap menikmatinya tanpa menggunakan nasi. Sebab kuliner tersebut telah diberikan tambahan kacang merah, kentang, wortel dan brokoli yang mengenyangkan. Bagian daging pada iga sapi cukup lembut setelah dimasak dalam waktu lama.

“Rasanya lembut dan kuah sup menghangatkan membuat selera makan meningkat, mengenyangkan tanpa nasi,” cetusnya.

Nurhasanah, pedagang di pasar Gudang Lelang, Teluk Betung menyebut menjual fucuk kai dalam kemasan. Setiap hari ia menyediakan belasan kemasan yang digemari sejumlah ibu rumah tangga.

Saat penghujan kuliner berbahan fucuk kai selain dibuat menjadi sup jadi olahan mi ayam, bakso. Kelembutan setelah direbus menjadi penambah kelezatan dalam sejumlah olahan kuliner.

Novi, salah satu warga asal Bangka yang menetap di Lampung menyebut fucuk kai jadi bahan sejumlah kuliner. Dalam kondisi basah kembang tahu tersebut bisa dijadikan minuman bersama air jahe. Dalam kondisi kering kulit atau kembang tahu jadi tambahan pembuatan sup. Kelezatan sup daging sapi akan semakin bertambah dengan sobekan fucuk kai yang semakin lembut setelah melalui proses perebusan.

Lihat juga...