Hingga Akhir Hayat, Pak Biakto Berupaya Sejahterakan Warga Desa

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Selain dikenal memiliki komitmen luar biasa besar dalam membangun dan memajukan koperasi di Indonesia, Subiakto Tjakrawerdaya selama ini juga dikenal sangat peduli pada kondisi masyarakat miskin di desa-desa. 

Salah satu cita-cita besar Pak Subiakto, yang merupakan Ketua Yayasan Damandiri periode 2016-2021 ini adalah mensejahterakan masyarakat desa, serta mewujudkan masyarakat desa yang adil, makmur dan sejahtera, lewat pembangunan ekonomi berbasis koperasi. Hal itulah yang dilakukan oleh Subiakto semasa hidup, selama menjadi ketua Yayasan Damandiri.

Menggantikan Haryono Suyono pada 2016, Subiakto mengubah arah pembangunan dan pemberdayaan masyarakat  yang dilakukan Yayasan Damandiri menjadi lebih fokus ke desa-desa. Desa dipilih karena desa dianggap merupakan miniatur sebuah negara.

“Zaman Pak Haryono Suyono, program pemberdayaan dilakukan melalui pendirian posdaya di berbagai wilayah di Indonesia. Namun karena cakupannya terlalu luas, serta dengan berbagai keterbatasan yang ada, Pak Subiakto kemudian lebih memfokuskannya ke desa. Yakni, dengan membangun desa-desa percontohan lewat program Desa Cerdas Mandiri Lestari,” ujar Sekretaris Yayasan Damandiri, Firdaus.

Terhitung sejak 2017, sebanyak 14 desa binaan Yayasan Damandiri di bawah kepemimpinan Pak Subiakto didirikan. Masing-masing desa tersebut juga didirikan koperasi sebagai motor penggerak ekonomi desa, dengan total jumlah anggota koperasi yang mencapai 14.000 orang lebih, dengan didominasi oleh warga miskin atau kurang mampu.

“Lewat program DCML inilah koperasi di desa-desa dibangun dan di-support. Koperasi menjadi fokus utama, karena beliau ingin koperasi menjadi motor penggerak ekonomi desa. Semua warga desa didorong agar menjadi anggota koperasi,” katanya.

Lewat pendekatan sosial maupun ekonomi, masyarakat desa terus didorong agar bisa berdaya dan mandiri. Demplot usaha, baik itu di bidang pertanian, peternakan, pariwisata, dan lain-lain, didirikan sebagai percontohan. Masyarakat miskin diberikan akses modal usaha. Sementara para generasi muda juga didorong mencapai pendidikan tertinggi, dengan menjadi sarjana. Nantinya setelah lulus, mereka diharapkan kembali untuk membangun dan memajukan desanya.

Lewat program DCML, Pak Subiato juga sangat konsen dalam mendorong pemanfaatan teknologi di desa-desa. Selain menjadikan desa lebih modern, pemanfaatan teknologi juga diharapkan mampu mendorong terciptanya sistem manajemen pengelolaan ekonomi desa yang jauh lebih baik.

“Tujuan program DCML adalah mensejahterakan masyarakat desa, dan menghapuskan kemiskinan di desa. Program DCML dikatakan berhasil, jika warga bisa memiliki penghasilan UMR + 20 persen. Serta masyarakat bisa membeli kebutuhan sehari-hari dan menabung,” ungkap Firdaus.

Lihat juga...