Hujan Selamatkan Tanaman Jagung dari Ulat Grayak

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Intensitas hujan yang tinggi di beberapa wilayah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menyebabkan tanaman jagung yang hampir terserang hama ulat grayak, justru terselamatkan. Serangan hama ulat grayak pun hanya menyasar kepada tanaman jagung yang terlambat ditanam dan memiliki ketinggian di bawah setengah meter, namun jumlah luas serangan terbatas.

“Apabila tidak terjadi hujan yang selalu turun intens setiap hari atau minimal 3 hari sekali, maka banyak tanaman jagung gagal panen,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Kristianus Amstorng, saat ditemui Cendana News di kantornya, Senin (8/2/2021).

Amstrong menyebutkan, Kecamatan Kangae yang merupakan sentra penghasil jagung di Kabupaten Sikka dengan luas lahan mencapai 1.900 hektare, luas serangan terhitung sedikit.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian, Kabupaten Sikka, NTT, Kristianus Amstrong, saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Senin (8/2/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dia menyebutkan, luas serangan hama ulat grayak masuk kategori intensitas rendah, sehingga tanaman jagung masih bisa terselamatkan, di mana 90 persen bisa berproduksi maksimal.

“Memang hama ulat grayak hanya bisa hilang, bila terjadi hujan lebat dan tidak ada panas berkepanjangan. Kita bersyukur tahun ini tanaman jagung petani bisa berproduksi maksimal,” ungkapnya.

Sementara itu, Dominikus Diri, petani jagung di Desa Langir saat ditemui di kebunnya terlihat sedang menyemprotkan pestisida untuk membasmi hama ulat grayak yang menyerang tanaman jagung.

Dominikus mengatakan, luas lahan jagung miliknya sekitar setengah hektare  berumur dua bulan lebih, dan mulai berbuah dan memang ada sedikit saja yang terserang hama.

“Saya kuatir serangan hama ulat grayak makin banyak, sehingga saya membeli pestisida di toko dan menyemprotnya. Hampir semua petani trauma dengan serangan hama ulat grayak tahun lalu yang menyebabkan kami gagal panen,” ucapnya.

Dominikus mengaku tidak mendapatkan bantuan benih dan pupuk, sehingga dirinya hanya menanam jagung jenis lokal dan tidak melakukan pemupukan menggunakan pupuk kimia.

Dirinya beralasan, pihak toko yang menjual kebutuhan pertanian tidak melayani pembelian pupuk kimia, bila tidak membawa rekomendasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

“Saya tidak bisa membeli pupuk, karena tidak masuk menjadi anggota kelompok tani. Sampai sekarang pun pemerintah belum mengecek lahan jagung kami, apakah terkena dampak serangan hama ulat grayak atau tidak,” ucapnya.

Lihat juga...