ICC Memutuskan Palestina Menjadi Bagian Yurisdiksinya

Konflik Palestina dan Israel – Foto Ant

YERUSALEM – Banyak warga Palestina menilai, keputusan Mahkamah Pidana Internasional (ICC), yang menempatkan wilayah Palestina menjadi bagian yurisdiksinya sebagai langkah hukum yang terlambat. Khususnya mereka para korban kekerasan Israel.

Namun, bagi sejumlah warga Israel, keputusan ICC itu dinilai mengkhawatirkan, karena mereka beranggapan kelompoknya adalah orang-orang baik, yang berusaha membela diri dari ancaman kekerasan bangsa Palestina. Putusan ICC, yang diumumkan oleh tiga hakim saat sidang pra peradilan, Jumat (5/2/2021), dapat jadi dasar hukum untuk penyelidikan kasus pidana yang dilakukan organisasi bersenjata di Israel dan Palestina, termasuk Hamas.

Namun, ICC belum memerintahkan penyelidikan apapun dalam waktu dekat. Jaksa ICC, Fatou Bensouda mengatakan, ia masih akan mempelajari putusan tersebut. Menurutnya, putusan itu dapat menjadi dasar penyelidikan Perang Gaza, yang melibatkan Israel dan Hamas pada 2014.

Serta insiden bentrok massa dan aparat, saat terjadi unjuk rasa di perbatasan Gaza pada 2018. “Putusan hakim itu juga dapat menjadi dasar penyelidikan pembangunan pemukiman ilegal yang dilakukan Israel di beberapa daerah, seperti di Tepi Barat dan Yerusalem Timur,” kata Bensouda.

Seorang warga Palestina, Tawfiq Abu Jama, yang tinggal di Khan Younis, Gaza menyebut, 24 anggota keluarganya tewas akibat serangan udara Israel, selama perang tujuh hari di 2014. Konflik bersenjata itu menyebabkan tewasnya 2.100 orang warga Palestina, yang sebagian besar adalah warga sipil, dan 67 tentara Israel serta enam warga sipil Israel. Abu Jaman menilai, keputusan ICC itu sebagai upaya mendapatkan keadilan yang terlambat. “Tetapi lebih baik, daripada tidak ada sama sekali. Kami tidak percaya pengadilan Israel,” tandasnya

Pengadilan Militer Israel, yang menggelar penyelidikan untuk pertempuran di Khan Younis memutuskan, serangan udara itu sah secara hukum karena hanya menargetkan para militan. Dalam kesempatan terpisah, seorang warga Israel, Gadi Yarkoni, yang tinggal di Eshkol daerah berbatasan Gaza mengatakan, ia kehilangan dua kakinya akibat serangan bom Palestina saat perang 2014. Yarkoni mengaku geram terhadap putusan ICC.

“Kami ini orang baiknya di sini, kami tidak menembak untuk membunuh anak-anak yang tidak bersalah, tetapi mereka menyerang kami untuk membunuh warga sipil. Saya menangis untuk tiap warga sipil yang tewas di Gaza, Tepi Barat, tetapi kami mempertahankan daerah kami,” kata Yarkoni, Kepala Dewan Kawasan Eshkol.

Walaupun demikian, dua kubu itu menyepakati satu hal, mereka tidak berharap ICC dapat mengakhiri konflik antara Israel dan Palestina. Seorang pejabat Pemerintah Israel, yang meminta agar tidak disebut namanya mengatakan, bukan berarti ICC akan menerbitkan surat penangkapan. Ia menambahkan, Israel akan berkoordinasi dengan Amerika Serikat untuk menanggapi putusan ICC. Menurut dia, putusan itu lebih bersifat politis.

Seorang pengacara internasional, dan mantan penasihat hukum Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Diana Buttu mengatakan, masih banyak tantangan yang dihadapi warga Palestina. “Jalan menuju keadilan yang sesungguhnya masih panjang, ICC tentu akan menghadapi banyak tekanan politik untuk tidak menindaklanjuti putusan itu,” kata Buttu.

Ia mengatakan, putusan itu bukan sikap keras pertama mahkamah internasional. Sebelumnya, ada putusan yang menyebut aksi pendudukan Israel sebagai perbuatan ilegal. “Namun, dunia tidak melakukan apapun terhadap putusan tersebut,” tandasnya.

Putusan ICC diumumkan tiga minggu setelah masa jabatan Donald Trump, sebagai presiden Amerika Serikat (AS) resmi berakhir. Trump, selama menjabat, menjatuhkan sanksi untuk dua pegawai ICC, termasuk di antaranya Bensouda. Setelah Joe Biden resmi menjabat sebagai presiden AS bulan lalu, Departemen Luar Negeri AS mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi secara menyeluruh sanksi-sanksi yang dijatuhkan pemerintahan Trump.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyebut, putusan ICC sebagai aksi anti ajaran Semitik. Dan Israel akan melawan ketidakadilan itu sekuat mungkin. Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki mengatakan, putusan itu menjadi hari bersejarah, mengingat Israel kerap merasa pihaknya berada di atas hukum. Namun, warga Palestina juga berpeluang menjadi objek penyelidikan ICC.

Hamas, yang masuk dalam daftar teroris di Israel dan beberapa negara Barat, diduga bertanggung jawab atas beberapa serangan yang menargetkan warga sipil. Hamas juga diyakini menggunakan warga Palestina, sebagai tameng manusia saat perang. Namun, seorang petinggi Hamas di Gaza, menyambut putusan tersebut. Ia menyebut, Hamas tidak takut terhadap penyelidikan ICC. “Perjuangan Hamas dan perjuangan rakyat Palestina sah dan konsisten dengan Hukum Kemanusiaan Internasional,” kata Juru Bicara Hamas, Hazem Qassem.

Militer Israel (IDF), kecewa terhadap putusan ICC dan pihaknya akan terus menjaga keamanan Israel beserta warganya. “sebagaimana diatur dalam kode etik IDF, nilai-nilai IDF, hukum nasional dan internasional,” bunyi pernyataan IDF. (Ant)

Lihat juga...