Ilmuan: Sastra Romansa Hadir Sebagai Kritik Tatanan Sosial

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Perjalanan cinta dalam tatanan sastra romansa Indonesia ternyata tidak hanya merefleksikan cinta itu sendiri. Tapi lebih kepada kritik ideologi pada kondisi saat karya sastra tersebut dilahirkan.

Ilmuwan Sastra, Seno Gumira Ajidarma menyebutkan, kisah cinta yang diungkap dalam karya sastra dalam perjalanan waktu dari sastra lama hingga masa kini tidak mengalami perubahan.

“Cinta itu bukan mempresentasikan cinta itu sendiri. Tapi merupakan bagian dari konteks sosial yang menyeruak dalam pemaknaan kisah itu sendiri,” kata Seno dalam talkshow online Romansa dalam Peradaban Nusantara, Minggu (21/2/2021).

Dimulai dari sastra lama, ia mengangkat karya paling terkenal dan paling mempengaruhi tatanan sosial saat itu, yaitu cerita Siti Nurbaya dalam Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli pada tahun 1922.

“Cerita ini sangat terkenal, hingga akhirnya dibuat nyata. Bukan kejadian yang nyata terjadi tapi makamnya bisa ditemukan. Karena dibuat. Padahal ini fiksi,” ungkapnya.

Cinta yang diangkat adalah bagaimana cinta harus kalah oleh kekuasaan orang tua. Hal ini menunjukkan representasi dari norma adat yang mengukung hak manusia untuk bebas mencintai.

Dalam tahap selanjutnya, mendekati masa orde baru, ada hasil-hasil karya Motinggo Busye, yang dikenal sebagai novel bau apek.

“Kenapa bau apek, karena novel ini sangat sering dibaca orang, terutama yang di taman bacaan. Disini cinta muncul dalam aspek seksualitas. Tetap bukan cinta sebagai cinta,” urainya.

Bergeser ke karya sastra populer, yang dimulai dengan Marga T dan juga Ashadi Siregar. Yang awalnya, menurut Seno, tidak dianggap sebagai karya sastra.

“Salah satu karya Marga T, adalah tentang perempuan yang diperkosa harus menikahi laki-laki yang memperkosanya. Karena anak yang dikandungnya adalah anak si bapak itu. Disini konflik batin timbul. Cerita cinta tampil sebagai bentuk protes pada maskulinitas dan adat saat itu yang mengharuskan anak mengikuti keinginan orang tua,” paparnya.

Pada karya Ashadi Siregar, seperti Cintaku di Kampus Biru atau Sirkuit Kemelut, cinta bertentangan dengan keinginan orang tua.

“Gambaran orang tua merupakan representasi kekuasaan. Hal ini merujuk pada protes pada situasi politik saat itu,” tuturnya.

Pada masa reformasi, muncul karya-karya Ayu Utami dan Jenar Mahesa Ayu. Yang mencerminkan kebebasan.

“Disini seksualitas dan cinta tidak hanya merujuk pada seks saja. Tapi juga penindasan, penyiksaan, kesakitan dan trauma. Pada karya-karya, romansa itu hadir tanpa sisi romantisme,” kata Seno.

Pada saat sekarang, ia menyatakan romansa yang menampilkan realitas itu tidak gratis tampilnya dan tidak gratis juga dalam pengakuan.

“Muncul kisah cinta dari kelas bawah, dari kelas pinggiran, dari kelompok yang tidak mendapat tempat dalam struktur sosial saat ini,” tuturnya.

Contohnya, karya berjudul Telembuk : Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat dalam dua edisi cover.

“Dengan melihat covernya saja, kita akan menangkap seksualitas, vulgaritas, keterbukaan dan hot. Yang muncul karena dalam dunia nyata, sistem nilai tidak berlangsung seperti yang kita pikirkan,” ungkapnya.

Ironisnya, karya yang berasal dari kelompok bawah ini, tidak dibaca oleh kelompok dimana si pengarang itu berasal.

“Jadi menurut saya, romansa itu tidak terletak pada romantisme-nya. Tapi aktualisasi kondisi saat itu,” pungkasnya.

Lihat juga...